BorneoFlash.com, SAMARINDA — Kondisi armada pengangkut sampah di Kota Samarinda kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya gambar di media sosial yang memperlihatkan sebuah truk dalam keadaan rusak dengan bagian belakang berlubang.
Menanggapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda membenarkan bahwa sebagian kendaraan operasional yang digunakan saat ini telah berusia cukup tua dan tidak lagi berada dalam kondisi optimal.
Meski demikian, armada tersebut masih difungsikan untuk menunjang pelayanan pengangkutan sampah yang berlangsung setiap hari.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengungkapkan keterbatasan jumlah kendaraan menjadi faktor utama belum bisa dihentikannya penggunaan armada lama.
“Memang masih terdapat sejumlah kendaraan yang secara teknis sudah tidak sepenuhnya layak, khususnya unit produksi tahun 2013 yang hingga kini masih kami operasikan,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Saat ini, DLH Samarinda mengandalkan sekitar 71 hingga 73 unit truk untuk melayani kurang lebih 83 titik tempat penampungan sementara (TPS).
Di sisi lain, jumlah pengemudi tercatat mencapai 87 hingga 89 orang, sehingga dalam praktiknya beberapa kendaraan harus dioperasikan secara bergantian oleh lebih dari satu sopir.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan armada dengan kebutuhan layanan di lapangan. Bahkan, sekitar 16 unit kendaraan digunakan secara rangkap demi memastikan seluruh wilayah tetap terlayani.
“Situasi ini mencerminkan adanya keterbatasan yang harus kami hadapi, sehingga kendaraan yang seharusnya sudah tidak digunakan tetap dioperasikan,” jelasnya.
Dalam upaya memperbaiki kondisi tersebut, DLH Samarinda sebenarnya telah melakukan penambahan armada secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025 tercatat penambahan 10 unit, sementara 2024 sebanyak 8 unit dan 2023 mencapai 15 unit.
Namun demikian, adanya jeda pengadaan pada periode sebelumnya membuat proses peremajaan armada berjalan kurang maksimal.
“Apabila pengadaan dapat dilakukan secara rutin setiap tahun, meskipun dalam jumlah terbatas antara tiga hingga sepuluh unit, hal tersebut akan sangat membantu dalam proses regenerasi kendaraan,” terangnya.
Selain faktor usia kendaraan, tingginya biaya perawatan juga menjadi kendala.
Perbaikan armada tua kerap memerlukan anggaran besar, bahkan mencapai puluhan juta rupiah, namun belum tentu menjamin kendaraan dapat beroperasi dalam jangka panjang tanpa kendala lanjutan.
“Perbaikan seringkali bersifat sementara, karena setelah satu bagian diperbaiki, kerusakan dapat muncul di bagian lainnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari penggunaan kendaraan yang sudah berusia,” ungkapnya.
Terkait kondisi truk yang mengalami kerusakan hingga menyebabkan potensi tercecernya sampah di jalan, DLH memastikan setiap unit yang bermasalah akan segera diperbaiki di bengkel. Lama pengerjaan disebut bergantung pada tingkat kerusakan dan antrean perbaikan.
“Untuk kerusakan ringan, umumnya dapat diselesaikan dalam beberapa hari,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, DLH juga mengatur pola operasional dengan menyesuaikan kondisi kendaraan. Armada yang telah berusia tua dialokasikan untuk rute jarak dekat guna meminimalkan risiko kerusakan saat bertugas.
“Kendaraan dengan kondisi kurang prima kami prioritaskan untuk melayani rute yang lebih ringan dan jarak yang lebih pendek,” jelasnya.
Meski demikian, untuk tahun ini DLH Samarinda belum dapat memastikan adanya tambahan armada baru karena keterbatasan anggaran yang tersedia. Kendati begitu, upaya pengadaan tetap diharapkan dapat berlanjut agar kendaraan lama dapat segera digantikan.
“Yang menjadi perhatian utama adalah agar pengadaan tidak terhenti, sehingga kendaraan yang sudah tidak layak dapat segera dipensiunkan,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar