Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan armada dengan kebutuhan layanan di lapangan. Bahkan, sekitar 16 unit kendaraan digunakan secara rangkap demi memastikan seluruh wilayah tetap terlayani.
“Situasi ini mencerminkan adanya keterbatasan yang harus kami hadapi, sehingga kendaraan yang seharusnya sudah tidak digunakan tetap dioperasikan,” jelasnya.
Dalam upaya memperbaiki kondisi tersebut, DLH Samarinda sebenarnya telah melakukan penambahan armada secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025 tercatat penambahan 10 unit, sementara 2024 sebanyak 8 unit dan 2023 mencapai 15 unit.
Namun demikian, adanya jeda pengadaan pada periode sebelumnya membuat proses peremajaan armada berjalan kurang maksimal.
“Apabila pengadaan dapat dilakukan secara rutin setiap tahun, meskipun dalam jumlah terbatas antara tiga hingga sepuluh unit, hal tersebut akan sangat membantu dalam proses regenerasi kendaraan,” terangnya.
Selain faktor usia kendaraan, tingginya biaya perawatan juga menjadi kendala.
Perbaikan armada tua kerap memerlukan anggaran besar, bahkan mencapai puluhan juta rupiah, namun belum tentu menjamin kendaraan dapat beroperasi dalam jangka panjang tanpa kendala lanjutan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar