BorneoFlash.com, BANDA ACEH – Penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang berharap pemerintah daerah segera membangun jembatan darurat sebagai akses utama menuju permukiman mereka yang hingga kini masih terputus.
Muhammad Hendra Vramenia, salah seorang penyintas yang dihubungi dari Banda Aceh, Kamis (9/4), mengatakan jembatan tersebut sebelumnya dihancurkan saat proses pembersihan pascabencana. Jembatan yang lebarnya kurang dari dua meter itu dibongkar menggunakan alat berat sekitar dua bulan lalu.
“Jembatan pelat beton itu dihancurkan dengan ekskavator. Kami tidak mengetahui alasan pasti pembongkarannya,” ujarnya.
Menurut Hendra, jembatan tersebut merupakan akses vital bagi puluhan keluarga yang tinggal di Kompleks Perumahan Budi 1, Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia menjelaskan, saat pembongkaran dilakukan, sebagian besar warga masih mengungsi di rumah kerabat maupun tempat penampungan. Namun kini, setelah warga kembali ke rumah masing-masing, ketiadaan jembatan justru menyulitkan aktivitas sehari-hari.
“Warga terpaksa mencari jalur alternatif untuk pulang, tetapi kondisinya sempit dan harus melintasi lahan milik warga lain,” katanya.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika hujan turun. Jalan alternatif menjadi berlumpur, licin, dan berisiko dilalui, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Padahal sebelumnya, lanjut Hendra, jembatan itu hanya tertimbun lumpur akibat banjir dan masih dapat digunakan setelah dibersihkan. Namun dalam proses penanganan, justru jembatan tersebut dibongkar.
Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat untuk membangun kembali jembatan, setidaknya dalam bentuk darurat, guna memulihkan akses warga yang terdampak bencana.
“Kami masih dalam kondisi sulit pascabencana. Kami berharap pemerintah hadir memberikan solusi, minimal membangun jembatan sementara agar aktivitas warga bisa kembali normal,” ujarnya. (*/ANTARA)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar