Pemerintah Kota Balikpapan

Balikpapan Genjot Skrining Pendengaran Pelajar

zoom-inlihat foto
Peringatan World Hearing Day 2026 di SMP Negeri 27 Balikpapan, pada Kamis (9/4/2026). Foto: BorneoFlash/Ardian
Peringatan World Hearing Day 2026 di SMP Negeri 27 Balikpapan, pada Kamis (9/4/2026). Foto: BorneoFlash/Ardian

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Di tengah maraknya penggunaan earphone dan perangkat audio di kalangan pelajar, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai mengantisipasi ancaman gangguan pendengaran yang kerap luput dari perhatian. 

Melalui program Skrining Pendengaran Nasional Anak Sekolah 2026, deteksi dini kini difokuskan sebagai langkah penting menjaga kualitas generasi muda di era digital.

Kegiatan yang merupakan bagian dari peringatan World Hearing Day 2026 ini menyasar pelajar tingkat SMP. Di Kalimantan Timur, pelaksanaannya dipusatkan di dua sekolah, yakni SMP Negeri 27 Balikpapan dengan 140 siswa dan SMP Negeri 2 Balikpapan sebanyak 53 siswa.

Ketua Tim Skrining Pendengaran Pelajar Balikpapan, dr. Erika Lukman, Sp.THT-BKL, mengungkapkan bahwa program ini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan upaya membangun basis data nasional terkait kondisi pendengaran anak.

“Data ini nantinya menjadi gambaran kondisi pendengaran pelajar secara nasional. Targetnya minimal 200 anak per provinsi,” ujarnya, pada Kamis (9/4/2026). 

Peringatan World Hearing Day 2026 Pemkot Balikpapan Gelar Skrining Pendengaran Anak Sekolah di SMP Negeri 27 Balikpapan, pada Kamis (9/4/2026). Foto: BorneoFlash/Ardian

Peringatan World Hearing Day 2026 Pemkot Balikpapan Gelar Skrining Pendengaran Anak Sekolah di SMP Negeri 27 Balikpapan, pada Kamis (9/4/2026). Foto: BorneoFlash/Ardian

Namun, di balik kegiatan tersebut, ada kekhawatiran yang semakin nyata. Kebiasaan menggunakan headset dengan volume tinggi dan durasi panjang dinilai menjadi ancaman serius bagi kesehatan telinga pelajar.

“Kerusakan akibat kebisingan bisa permanen. Karena itu, kami sarankan penggunaan headset di bawah 50 persen volume dan tidak lebih dari 60 menit,” tegas dr. Erika.

Ia menjelaskan, kerusakan pada sel rambut di telinga akibat paparan suara berlebih tidak dapat dipulihkan. Padahal, fungsi pendengaran sangat krusial dalam proses belajar.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar