BorneoFlash.com, SAMARINDA - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) memproyeksikan adanya tekanan pada pembiayaan sektor olahraga pada tahun 2027.
Situasi ini diperkirakan muncul akibat padatnya kalender kegiatan olahraga, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Sejumlah agenda besar dijadwalkan berlangsung dalam waktu yang berdekatan, di antaranya Babak Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON), ajang pelajar seperti Popnas dan Popda, hingga event kawasan seperti Borneo Games.
Penumpukan agenda tersebut dinilai berimplikasi langsung terhadap kebutuhan anggaran yang harus disiapkan pemerintah daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga (PPO) Dispora Kaltim, Rasman Rading, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan kajian menyeluruh untuk memetakan potensi beban pembiayaan yang akan dihadapi.
“Kami telah melakukan analisis secara komprehensif terhadap seluruh agenda yang akan berlangsung. Tahun 2027 diproyeksikan menjadi periode dengan intensitas kegiatan yang sangat tinggi, sehingga berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan anggaran,” ujarnya, pada Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa baik pelaksanaan kegiatan pada 2026 maupun 2027 sama-sama memiliki konsekuensi finansial. Oleh sebab itu, Dispora Kaltim memilih pendekatan selektif dengan memilah program prioritas dan kegiatan yang dapat disesuaikan skalanya.
Menurutnya, tidak seluruh agenda harus mendapatkan perlakuan yang sama dalam hal pembiayaan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan urgensi serta dampak terhadap pencapaian prestasi olahraga daerah.
“Kami menerapkan strategi penyesuaian dengan menentukan program mana yang perlu dioptimalkan dan mana yang dapat disederhanakan, sehingga alokasi anggaran dapat lebih efektif,” jelasnya.
Salah satu agenda yang dinilai relatif ringan dari sisi pembiayaan adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) yang direncanakan digelar di Bontang. Meski tetap didukung pemerintah provinsi, kebutuhan anggaran untuk kegiatan tersebut tidak sebesar ajang lainnya.
Di sisi lain, event berskala nasional dan internasional seperti Popnas tetap menjadi prioritas perhatian. Namun, keterbatasan anggaran mendorong Dispora untuk menerapkan kebijakan selektif dalam menentukan cabang olahraga yang akan diikuti.
“Kami harus bersikap realistis dalam menyikapi keterbatasan anggaran. Tidak semua cabang olahraga dapat diikutsertakan, sehingga fokus diarahkan pada cabang yang memiliki peluang meraih prestasi,” tegasnya.
Kebijakan ini juga selaras dengan target besar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk menembus posisi tiga besar dalam ajang PON mendatang.
Untuk itu, Dispora menekankan pentingnya fokus pada cabang olahraga unggulan yang memiliki potensi medali dan nomor pertandingan yang lebih banyak.
Rasman menilai, pendekatan tersebut menjadi langkah strategis agar target yang telah ditetapkan dapat dicapai secara realistis dan terukur.
“Target besar tersebut perlu diterjemahkan dalam langkah konkret, yakni dengan memprioritaskan cabang olahraga yang memiliki potensi kontribusi medali secara signifikan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pola pembinaan ke depan tidak lagi dilakukan secara merata seperti sebelumnya, melainkan berbasis prioritas yang jelas dan terukur.
“Terdapat kebutuhan untuk mengubah pendekatan yang selama ini digunakan, dari pola pemerataan menjadi berbasis prioritas, agar pembinaan lebih efektif dan tepat sasaran,” tambahnya.
Terkait komunikasi dengan pimpinan daerah mengenai kondisi anggaran dan strategi pencapaian target, Rasman menyebut hal tersebut merupakan kewenangan pimpinan instansi.
Ia memastikan bahwa koordinasi telah dilakukan, meskipun detail pembahasan berada di tingkat kepala dinas.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar