Bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu memperkuat sistem mitigasi bencana dan pengaturan ruang. Kalimantan Timur dapat mengambil pelajaran dari situasi ini untuk mulai mempersiapkan diri mulai sekarang.
Ada beberapa langkah yang dapat difokuskan:Pertama, perlu ada perbaikan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan area resapan air, perlindungan hutan, serta pengelolaan sungai yang harus dilakukan secara lebih konsisten agar tidak terjadi genangan air berlebih.
Kedua, lakukan audit infrastruktur drainase di kota-kota Kaltim, karena banyak daerah tergenang akibat drainase yang tidak cukup untuk menampung intensitas hujan yang semakin tinggi.
Ketiga, terapkan tata ruang yang berbasis pada risiko bencana; setiap izin pembangunan harus mempertimbangkan dampak ekologis jangka panjang.
Keempat, tingkatkan pemahaman lingkungan bagi masyarakat dan generasi muda.
Kelima, perkuat kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas.
Banjir yang melanda Sumatera dan Aceh bukan hanya bencana bagi daerah itu, tetapi juga menjadi peringatan untuk daerah lain, termasuk Kaltim.
Di tengah perubahan iklim global dan transformasi pembangunan yang cepat, kita tidak bisa lagi memisahkan pembangunan dari perlindungan lingkungan.
Kaltim memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Namun, potensi ini hanya dapat terwujud jika kita belajar dari bencana di daerah lain dan memperkuat komitmen bersama untuk melindungi lingkungan.
Karena, pada akhirnya, melestarikan lingkungan bukan hanya soal mencegah banjir saat ini, tetapi juga tentang memastikan masa depan yang lebih aman dan layak untuk generasi yang akan datang. (
*) Nama Penulis : Bella Widiamarshanda Husna Program Studi : Ilmu Pemerintahan Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Perguruan Tinggi : Universitas Mulawarman E-mail : bellawidia57@gmail.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar