Opini

Belajar dari Banjir di Sumatera dan Aceh, Saatnya Kaltim Lebih Serius Menjaga Lingkungan

Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Sebagai provinsi yang kaya akan sumber daya alam, Kaltim telah lama menjadi pusat industri batu bara, perkebunan, dan migas.

Kegiatan ini membawa kontribusi ekonomi yang besar, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan yang serius, mulai dari pergeseran lanskap, sedimentasi sungai, hingga hilangnya beberapa area resapan air.

Dengan adanya pembangunan IKN, kebutuhan akan lahan, energi, dan infrastruktur akan semakin meningkat.

Pembangunan memang memberikan peluang baru, tetapi juga memerlukan perhatian serius untuk menjamin keberlanjutan lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik, risiko terhadap banjir, longsor, dan bencana ekologis lainnya bisa meningkat.

Belajar dari banjir di Sumatera dan Aceh, pesan yang bisa kita ambil adalah jelas: pembangunan yang tidak disertai mitigasi lingkungan yang kuat akan menciptakan kerentanan jangka panjang.

Isu banjir sering kali dianggap hanya sebagai masalah teknis atau tanggung jawab pemerintah semata. Padahal, penyelesaiannya memerlukan kerjasama dari semua pihak.

Pemerintah daerah harus berperan aktif dalam meningkatkan pengawasan tata ruang, memperbaiki kapasitas sistem drainase di kota, dan memastikan pengelolaan kawasan hutan serta sungai itu baik.

Namun, masyarakat juga memegang peranan penting, terutama dalam menjaga lingkungan sekitar dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga sungai.

Sebagai mahasiswa di bidang ilmu pemerintahan, saya melihat masalah ini tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan cara pengelolaan.

Banjir terjadi akibat keputusan kebijakan yang tidak selaras, lemahnya evaluasi, dan kurangnya penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Oleh karena itu, generasi muda, terutama mahasiswa, perlu menjadi suara yang kritis dan kreatif dalam mendorong perubahan.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar