Pemkab Kutai Kartanegara

Tekanan Likuiditas Menumpuk, Pemkab Kukar Berharap Transfer Pusat Segera Tiba

lihat foto
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kukar, Bahari Joko Susilo. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kukar, Bahari Joko Susilo. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana

BorneoFlash.com, KUKAR - Tekanan likuiditas keuangan daerah di Kutai Kartanegara (Kukar) semakin terasa menjelang akhir tahun. Sejumlah rekanan dan pegawai ASN mulai mengeluhkan keterlambatan pembayaran kegiatan lantaran beban tagihan yang menumpuk.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar pun berharap pencairan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat dapat menjadi penyangga sementara untuk menutup kewajiban daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kukar, Bahari Joko Susilo, mengungkapkan bahwa pekan depan pemerintah pusat menjadwalkan penyaluran Transfer Keuangan Daerah (TKD) senilai sekitar Rp 800 miliar. Dana tersebut diperkirakan langsung terserap cepat begitu masuk ke kas daerah.

“Tagihan belanja barang dan jasa sudah terlalu banyak menumpuk. Kalau tidak ada kendala, Rp 800 miliar ini akan habis hanya dalam empat hari,” ujarnya, pada Jumat (21/11/2025).

Menurut Joko, kondisi ini bukan disebabkan kas daerah kekosongan dana, melainkan karena prioritas belanja wajib dan mendesak membuat beberapa pos anggaran lain harus menunggu giliran.

Pendapatan umum yang bersumber dari TKD, bantuan provinsi, hingga PAD baru tercapai sekitar 65 persen, sementara penerimaan PAD sendiri telah mendekati 80 persen.

“Bantuan keuangan pajak provinsi juga masih sekitar 50 persen yang tersalurkan. Pembayaran beasiswa kemarin misalnya, menggunakan bantuan pajak provinsi sebesar Rp 60 miliar,” jelasnya.


Joko menepis anggapan bahwa Pemkab menyimpan dana mengendap di bank. Semua dana yang masuk, kata dia, langsung diarahkan untuk membayar tagihan yang telah lama antre.

“Tidak ada dana yang mengendap. Begitu masuk, langsung dipakai untuk bayar tagihan yang menumpuk,” tegasnya.

Situasi ini diperparah dengan kurang salur tahun 2023 senilai Rp 1,3 triliun yang hingga kini belum ditransfer pemerintah pusat. Jika dana tersebut cair, menurut Joko, saldo keuangan daerah akan jauh lebih stabil.

“Jadwalnya antara pekan kedua atau ketiga. Kami terus berkoordinasi agar pusat tepat waktu menyalurkan,” ujarnya.

Di sisi lain, dunia usaha juga mulai merasakan dampaknya. Ketua Forum Kontraktor Kukar, Andi Husri, membenarkan adanya sejumlah pekerjaan kontraktor yang telah selesai 100 persen namun belum bisa dibayarkan.

“Pemkab masih menunggu transfer pusat,” singkatnya.

Dengan terus bertambahnya kewajiban yang harus diselesaikan dan pendapatan daerah yang belum sepenuhnya masuk, Kukar berharap pencairan dana pusat dapat menjadi penyeimbang di tengah tekanan fiskal jelang tutup tahun.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar