Perang ini pecah setelah RSF dan SAF—yang sebelumnya bekerja sama menggulingkan pemerintahan Abdalla Hamdok pada 2021—berselisih mengenai rencana integrasi RSF ke dalam struktur militer resmi.
RSF menolak dan menuntut peran lebih besar, memicu pertarungan terbuka untuk merebut kekuasaan.
RSF Bergerak ke Timur: Kordofan Jadi Medan Tempur BaruSetelah menguasai sebagian besar Darfur, RSF kini memperluas operasi mereka ke wilayah timur. Kordofan—yang memisahkan Darfur dari daerah yang masih dikuasai militer—menjadi pusat pertempuran terbaru.
RSF merebut kota strategis Bara di Kordofan Utara, memicu gelombang pengungsi. Menurut IOM, lebih dari 50.000 orang mengungsi dari wilayah tersebut hanya dalam beberapa hari.
Para penyintas menggambarkan eksekusi singkat terhadap warga sipil.
“Kami diperintahkan duduk berjejer. Dua orang di samping saya ditembak mati,” kata Khalil, seorang warga yang melarikan diri ke Omdurman, dilansir Reuters.
Di kota lain seperti Babanusa, El-Obeid, Kadugli, dan Dilling, pasukan RSF dilaporkan mengepung posisi militer. Badan pemantau kelaparan global menyebut beberapa di antaranya sudah memasuki fase kelaparan sejak September.
Tanda-tanda Eskalasi di Seluruh SudanDi Port Sudan, saksi mata melaporkan meningkatnya kedatangan pesawat kargo yang diduga membawa suplai militer.
Militer Sudan sendiri belum menyetujui proposal gencatan senjata yang pekan lalu diterima RSF dari Amerika Serikat. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar