BorneoFlash.com, SAMARINDA – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia tahun ini ternyata tidak membawa berkah yang sama bagi para pelaku usaha penyewaan busana adat. Salah satunya dialami Nooraini, pemilik usaha penyewaan baju tradisional Dayak di kawasan Jalan Bengkuring Raya 1, RT 36 Samarinda.
Perempuan berusia 47 tahun itu menuturkan, usahanya mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tahun lalu, menjelang momentum peringatan kemerdekaan, koleksi busana adat yang ia sewakan bahkan harus dipesan jauh-jauh hari karena tingginya permintaan. Namun kali ini, sejumlah baju tradisional masih tersimpan rapi di rak tanpa ada penyewa.
“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, jelas lebih sepi. Mungkin karena peringatan 17 Agustus tahun ini bertepatan dengan hari Minggu, sementara tahun lalu berdekatan dengan pawai pembangunan sehingga lebih ramai,”ujar Nooraini, pada Jumat (22/8/2025).
Usaha penyewaan ini dijalankan Nooraini bersama ibunya dan berada tepat di samping salon milik sang kakak. Karena lokasi yang berdekatan, mereka menggunakan nama Anggun Salon sebagai identitas usaha penyewaan baju adat tersebut.
Koleksi busana yang mereka miliki terbilang cukup lengkap, terdiri dari sekitar 50 set pakaian adat Dayak yang bisa digunakan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Meski demikian, pada momen HUT RI ke-80 tahun ini, jumlah penyewa hanya sekitar 10 set saja.
“Bulan ini kira-kira hanya sepuluh setel yang keluar,”ungkapnya.
Harga sewa busana adat di tempat ini bervariasi, mulai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu, bergantung model serta kelengkapan aksesorisnya. Sementara untuk pembelian, harganya berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp1,7 juta, menyesuaikan tingkat kerumitan pengerjaan.
Koleksi yang ditawarkan meliputi berbagai pakaian tradisional Dayak, antara lain Dayak Kenyah, Dayak Tunjung, dan Dayak Bahau. Namun, Nooraini lebih menonjolkan busana khas Dayak Kenyah, sesuai dengan asal-usul ibunya. Selain baju, tersedia pula aksesoris pendukung seperti kalung, hiasan kepala, dan keranjang anyaman.
Menurutnya, penurunan jumlah penyewa juga dipengaruhi oleh semakin banyaknya pengrajin maupun pelaku usaha serupa di Samarinda.
“Sekarang sudah banyak yang menjual dan menyewakan, mungkin itu juga yang membuat penyewaan kami menurun,”jelasnya.
Meski demikian, Nooraini tetap optimistis. Ia menyebut bahwa momen besar seperti Hari Kartini dan perayaan lain di bulan Juli maupun Desember biasanya kembali mendongkrak permintaan. Bahkan, pelanggan tetap masih datang setiap bulan, khususnya dari sekolah taman kanak-kanak (TK) yang rutin menyewa untuk kegiatan siswa.
“Dari TK hampir setiap bulan ada saja yang menyewa, biasanya dua sampai tiga pasang,”tambahnya.
Jangkauan usaha ini pun tidak terbatas di Samarinda. Produk mereka kerap dipesan pembeli dari luar daerah, bahkan hingga ke Pulau Jawa dan Malaysia. Selain melayani persewaan langsung, mereka juga memasok busana ke pedagang di kawasan Citra Niaga.
“Biasanya kalau ada permintaan dari toko Anugerah di Citra Niaga, kami langsung mengantar barang sesuai pesanan,”tuturnya.
Usaha keluarga ini sudah digeluti sejak lama, bahkan jauh sebelum Nooraini memiliki anak yang kini telah berusia 14 tahun. Baginya, penyewaan baju adat bukan hanya soal bisnis, tetapi juga cara menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Dayak kepada masyarakat luas. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar