Berita Kalimantan Timur

Dari Rumah ke Pasar Global: Kisah Manik Dayak yang Bertahan Lewat Tangan Perempuan

lihat foto
Purnamawati Perajin yang telah menekuni kerajinan manik bermotif dayak. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa
Purnamawati, Perajin yang telah menekuni kerajinan manik bermotif dayak. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif dan produk serba instan, kerajinan manik-manik bermotif Dayak masih menunjukkan daya tahannya di Samarinda.

Bukan hanya sebagai cendera mata, manik-manik ini menjadi simbol kuat dari warisan budaya yang diwariskan lintas generasi, sekaligus penopang ekonomi rumahan bagi banyak perempuan.

Dari rumah ke pasar global: kisah manik Dayak yang bertahan lewat tangan perempuan bukan sekadar judul cerita, tapi realitas yang hidup di balik industri kecil ini.

Lewat kerajinan tangan, para ibu rumah tangga di Samarinda Seberang dan sekitarnya menjaga agar nilai-nilai tradisional tetap bernyawa, bahkan hingga menjangkau pembeli dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri.

Manik-manik ini dirangkai menjadi beragam produk seperti kalung, gantungan kunci, dan tas kecil.

Namun yang membuatnya istimewa adalah sentuhan motif Dayak dan pilihan warna mencolok yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya lokal Kalimantan Timur.

Kerajinan manik-manik bermotif dayak. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa
Kerajinan manik-manik bermotif dayak. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa

Proses produksi masih bersifat manual dan dikerjakan secara kolektif dari rumah masing-masing.

Model kerja ini membuka ruang bagi pemberdayaan ekonomi perempuan tanpa mengorbankan peran domestik mereka.

Melalui kerajinan ini, rumah menjadi ruang produksi budaya sekaligus sumber penghasilan.


Meski demikian, keberlangsungan kerajinan manik menghadapi tantangan nyata.

Mulai dari keterbatasan bahan baku khas yang sebagian besar masih harus didatangkan dari luar daerah, hingga rendahnya minat generasi muda untuk belajar dan meneruskan tradisi ini.

“Sekarang ini, lebih banyak ibu-ibu yang tertarik. Anak muda jarang yang mau belajar,”ungkap Purnamawati, seorang perajin yang telah menekuni kerajinan manik selama delapan tahun.

Tantangan regenerasi menjadi perhatian tersendiri, sebab tanpa minat dari kalangan muda, keberlanjutan tradisi ini bisa terancam.

Beberapa upaya pelatihan dan pengajaran memang dilakukan, namun hasilnya belum maksimal.

Dalam satu sesi pelatihan misalnya, dari puluhan peserta, hanya satu anak muda yang menunjukkan ketertarikan serius untuk mendalami teknik kerajinan.

Meskipun produksinya terbatas, permintaan terhadap produk tetap tinggi, terutama saat event-event pemerintah dan pameran UMKM.

Tidak jarang barang habis terjual sebelum sempat didokumentasikan, dan pola desain yang tidak terekam sulit untuk diproduksi ulang.

Di tengah segala keterbatasan dan tantangan, kerajinan manik tetap bertahan sebagai ruang ekspresi budaya dan ekonomi.

Lewat tangan-tangan terampil para perempuan Samarinda, warisan Dayak tidak sekadar dikenang, tetapi terus dihidupkan dan dikenalkan kepada dunia. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar