Sementara itu, Masyhur “Mace” Amhas sebagai pengelola teknis WSS Saliki, membagikan pengalamannya terkait operasional sistem, mulai dari spesifikasi alat hingga proses filtrasi dan distribusi air ke masyarakat.
Usai sesi pemaparan, peserta melakukan kunjungan langsung ke fasilitas WSS Saliki untuk melihat proses penyaringan air bersih secara menyeluruh dan berdiskusi langsung dengan pengelola di lapangan.
Kaji banding ini merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR PEP Tanjung Field yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang Pemenuhan Kebutuhan Dasar akan Air Bersih dan Sanitasi Layak.
Head of Communication Relations & CID Zona 9, Elis Fauziyah, menyampaikan bahwa Fasilitas WSS di Desa Saliki telah terbukti sukses dan berdampak positif bagi masyarakat sekitar.
“Melalui kegiatan ini, BUMDes Remaja Karya dapat mereplikasi pengelolaan air bersih berbasis komunitas sebagaimana yang dilakukan oleh BUMDes Mekar Sejati di Desa Saliki. Selain sebagai upaya pemenuhan hak dasar masyarakat, sistem air bersih ini juga berpotensi menjadi sumber pendapatan desa yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Elis, kegiatan kaji banding merupakan bagian dari upaya Perusahaan dalam mendukung pembangunan desa berbasis kebutuhan riil masyarakat.
“Kami melaksanakan program CSR yang inovatif dan berkelanjutan sebagai bentuk komitmen terhadap penerapan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), dengan harapan dapat memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan,” imbuhnya.
Kegiatan kaji banding ini menegaskan pentingnya sinergi anak perusahaan dan afiliasi di lingkungan PHI dalam berbagi solusi, memperkuat kapasitas lokal, dan mempercepat pembangunan desa secara partisipatif dan inklusif. (*)






