BorneoFlash.com, OPINI - Sekolah merupakan institusi formal yang dirancang untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada peserta didik. Di dalamnya terdapat proses sistematis untuk mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai tertentu dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter dan kepribadian
Lebih dari sekadar lembaga pengajaran, sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar tentang kehidupan. Makna sejati dari sekolah adalah membantu siswa tumbuh menjadi manusia yang utuh—berpikir kritis, memiliki empati, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan hidup. Pendidikan bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga proses pembentukan watak dan pemahaman akan nilai-nilai kehidupan
Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk masa depan generasi muda. Selain memberikan pengetahuan, sekolah berperan dalam menanamkan nilai moral, sosial, dan emosional yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Guru sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar, memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing siswa menjadi pribadi yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah kini terlalu fokus pada pencapaian nilai akademik. Sistem pendidikan yang menilai kesuksesan siswa hanya berdasarkan angka di rapor membuat sekolah cenderung mengabaikan aspek lain yang tak kalah penting, yaitu pendidikan karakter dan pembelajaran tentang kehidupan nyata.
Ujian nasional, akreditasi, dan peringkat menjadi tolok ukur utama. Sementara empati, kejujuran, dan keterampilan hidup sering kali tersisihkan. Siswa didorong untuk menghafal, bukan memahami; untuk mencapai angka tinggi, bukan untuk tumbuh menjadi manusia yang bijak dan tangguh. Akibatnya, banyak siswa yang secara akademik cemerlang, namun gagap ketika menghadapi persoalan kehidupan yang kompleks.
Pendidikan merupakan jantung dari proses pembentukan manusia yang utuh, baik secara intelektual, emosional, maupun moral. Sekolah sebagai institusi formal memiliki peran penting dalam menjalankan fungsi pendidikan. Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah yang justru terjebak dalam sistem pendidikan yang mekanistik, menekankan hafalan, dan mengebiri daya kritis peserta didik. Di sinilah pemikiran Paulo Freire memberikan angin segar dan menjadi kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang tidak membebaskan.
Paulo Freire, seorang filsuf dan pendidik asal Brasil, dikenal luas lewat karya monumentalnya "Pedagogy of the Oppressed". Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional yang disebutnya sebagai "banking education" atau pendidikan gaya perbankan. Dalam sistem ini, guru diposisikan sebagai satu-satunya subjek aktif yang "menyimpan" pengetahuan ke dalam diri siswa sebagai objek pasif, layaknya menyetor uang ke dalam bank.
Freire menolak pandangan tersebut dan menawarkan pendekatan pendidikan yang dialogis dan membebaskan. Ia percaya bahwa pendidikan harus menjadi proses bersama di mana guru dan murid saling belajar satu sama lain. Pendidikan menurut Freire bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses kesadaran kritis (conscientization) yang membangun kemampuan peserta didik untuk memahami realitas sosial, serta bertindak mengubah kondisi yang menindas mereka.
Berdasarkan pandangan Freire, hakikat pendidikan di sekolah tidak boleh berhenti pada penguasaan materi atau nilai-nilai akademis. Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membangkitkan kesadaran kritis, mengajarkan peserta didik untuk mempertanyakan realitas, dan mengambil sikap terhadap ketidakadilan.
Sekolah idealnya menjadi tempat dialog, bukan doktrinasi. Guru bukanlah otoritas yang mutlak benar, melainkan fasilitator yang membimbing murid untuk menemukan dan membentuk pemahaman mereka sendiri. Dalam semangat ini, siswa diajak untuk berpikir, bukan hanya mengingat. Mereka belajar bukan sekadar untuk menghadapi ujian, melainkan untuk menghadapi kehidupan.
Bila diadopsi dalam sistem pendidikan sekolah saat ini, pemikiran Freire menuntut reorientasi paradigma. Penilaian tidak lagi hanya berfokus pada angka dan ujian semata, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, dan partisipasi aktif dalam masyarakat.
Pembelajaran pun harus bersifat kontekstual, terhubung dengan realitas kehidupan siswa. Materi pelajaran sebaiknya dikaitkan dengan pengalaman konkret siswa, sehingga pengetahuan menjadi sesuatu yang bermakna dan membumi, bukan abstrak dan jauh dari kehidupan mereka.
Penutup
Sudah saatnya sekolah kembali kepada esensi awalnya: mendidik manusia seutuhnya. Nilai akademik penting, tetapi bukan satu-satunya. Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang mempersiapkan siswa tidak hanya untuk menghadapi ujian, tetapi juga untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Mendidik untuk hidup berarti mengajarkan keberanian, rasa tanggung jawab, empati, dan kejujuran—hal-hal yang tidak selalu bisa diukur dengan angka, tetapi sangat menentukan arah masa depan. (*)
Nama Penulis : Agus Priyono Marzuki S.Pd Profesi : Guru No WhatsApp : 085792185490 Email : agus16priyono.marzuki@gmail.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar