Sayangnya, seperti juga kilat yang cahayanya hanya sekejap, hidup Ramanujan tak panjang. Di usia 32 tahun, ia wafat. Gizi buruk akibat kemiskinan yang ia alami sejak kecil rupanya menjadi bom waktu yang menggerogoti kesehatannya dengan cepat.
Namun dalam masa hidupnya yang singkat itu, ia telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang matematika. Film The Man Who Knew Infinity dengan apik melukiskan kisahnya.
Dan India mengenang dengan menjadikan tanggal kelahiran lelaki itu sebagai Hari Matematika Nasional.
Kejeniusan memang selalu punya daya pikat untuk diceritakan dan dituliskan. Sebagaimana Einstein, Edison, Nash, dan lainnya, banyak yang mengelu-elukan otak encer Ramanujan.
Dia memang berbakat dan cerdas luar biasa. Namun sekali lagi, ada pustaka tergeletak di sana, di pelataran takdir besarnya. Memang tulisan Carr itu hanya menjadi catatan kaki kisah hidup seorang jenius miskin dari Negeri Anak Benua itu.
Tapi tidak ada yang menyangkal, bahkan Ramanujan sendiri, andil besar buku itu dalam hidup dan karya-karya besar yang lahir kemudian. Ramanujan adalah kisah tentang buku yang menemukan pembacanya. Tentang pustaka yang membuka takdir seseorang.
*Penulis: Wildan Taufiq
(Bersambung)






