Opini

Takdir Pustaka, Perjumpaan yang Mengguncang Takdir – Bagian Pertama

lihat foto
Ilustrasi, by Freepik.
Ilustrasi, by Freepik.

BorneoFlash.com, OPINI - Di antara tumpukan buku yang berdebu, di antara halaman-halaman yang menguning oleh waktu, takdir diam-diam bersarang.

Ia menunggu, mengendap, mengawasi manusia yang melintas, berharap ada tangan yang menyentuh, mata yang membaca dan pikiran yang terbuka.

Takdir sebuah pustaka tidak pernah sederhana. Kadang, ia terabaikan di sudut perpustakaan yang sunyi, kadang ia terbuka di tangan seorang bocah yang kehausan akan makna.

Seperti angin yang berembus dari masa lalu, sebuah buku bisa menemukan pembacanya dengan cara yang tak terduga—dan dari sana, mengubah jalannya kehidupan.

Perjumpaan yang Mengguncang Takdir

Synopsis of Elementary Results in Pure and Applied Mathematics judul buku itu. Tidak Istimewa, ada banyak buku sejenis di masanya yang juga membahas aneka proposisi, teorema, dan metode dasar matematika.

Di tahun 1880 di Inggris masa itu, kemunculan buku tersebut bukan perkara monumental apalagi jika dibandingkan dengan gairah revolusi industri yang disentak penyempurnaan mesin uap oleh James Watt di penghujung abad 18.

Ia hanyalah kumpulan ribuan teorema dan proposisi yang dituliskan dengan ringkas, nyaris tanpa penjelasan.


Tapi itulah misteri takdir pengetahuan. Bahkan George Shoobrige Carr mungkin tak pernah membayangkan bahwa karyanya kelak akan jadi perbincangan hingga ratusan tahun kemudian.

Sekali lagi bukan karena keistimewaan kandungan buku tersebut. Tetapi, sebagaimana takdir sering kali bermain-main dengan keacakan, satu dekade kemudian sejak terbitnya, buku tersebut mendarat di tangan seorang remaja miskin dari India, Srinivasa Ramanujan.

Saat itu, Ramanujan belum mengenal kemegahan universitas, belum pernah duduk di kelas bersama para profesor, belum menyentuh kehidupan akademik yang mapan. Tetapi ketika halaman-halaman buku itu terbuka di hadapannya, dunia seperti menyingkapkan rahasianya.

Seperti kilat yang membelah malam, berbagai inspirasi hadir saat ia menyerap kombinasi bilangan dan rumus-rumus di dalamnya dengan rakus. Tak sekadar membaca, ia menantang, menguji, dan mengembangkan.

Adalah Godfrey Harold Hardy, seorang matematikawan Inggris lain, dan seorang pakar bilangan yang secara tak sengaja menemukan bakat raksasa Ramanujan.

Ia lantas mengundang pemuda lugu tersebut untuk mengunjungi Cambridge guna bekerjasama mengembangkan berbagai teori bilangan. Kolaborasi keduanya menghasilkan teorema-teorema yang hingga kini masih menggema dalam labirin ilmu pengetahuan.


Sayangnya, seperti juga kilat yang cahayanya hanya sekejap, hidup Ramanujan tak panjang. Di usia 32 tahun, ia wafat. Gizi buruk akibat kemiskinan yang ia alami sejak kecil rupanya menjadi bom waktu yang menggerogoti kesehatannya dengan cepat. Namun dalam masa hidupnya yang singkat itu, ia telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang matematika. Film The Man Who Knew Infinity dengan apik melukiskan kisahnya.

Dan India mengenang dengan menjadikan tanggal kelahiran lelaki itu sebagai Hari Matematika Nasional.

Kejeniusan memang selalu punya daya pikat untuk diceritakan dan dituliskan. Sebagaimana Einstein, Edison, Nash, dan lainnya, banyak yang mengelu-elukan otak encer Ramanujan.

Dia memang berbakat dan cerdas luar biasa. Namun sekali lagi, ada pustaka tergeletak di sana, di pelataran takdir besarnya. Memang tulisan Carr itu hanya menjadi catatan kaki kisah hidup seorang jenius miskin dari Negeri Anak Benua itu.

Tapi tidak ada yang menyangkal, bahkan Ramanujan sendiri, andil besar buku itu dalam hidup dan karya-karya besar yang lahir kemudian. Ramanujan adalah kisah tentang buku yang menemukan pembacanya. Tentang pustaka yang membuka takdir seseorang.

*Penulis: Wildan Taufiq (Bersambung)
Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar