Tapi itulah misteri takdir pengetahuan. Bahkan George Shoobrige Carr mungkin tak pernah membayangkan bahwa karyanya kelak akan jadi perbincangan hingga ratusan tahun kemudian.
Sekali lagi bukan karena keistimewaan kandungan buku tersebut. Tetapi, sebagaimana takdir sering kali bermain-main dengan keacakan, satu dekade kemudian sejak terbitnya, buku tersebut mendarat di tangan seorang remaja miskin dari India, Srinivasa Ramanujan.
Saat itu, Ramanujan belum mengenal kemegahan universitas, belum pernah duduk di kelas bersama para profesor, belum menyentuh kehidupan akademik yang mapan. Tetapi ketika halaman-halaman buku itu terbuka di hadapannya, dunia seperti menyingkapkan rahasianya.
Seperti kilat yang membelah malam, berbagai inspirasi hadir saat ia menyerap kombinasi bilangan dan rumus-rumus di dalamnya dengan rakus. Tak sekadar membaca, ia menantang, menguji, dan mengembangkan.
Adalah Godfrey Harold Hardy, seorang matematikawan Inggris lain, dan seorang pakar bilangan yang secara tak sengaja menemukan bakat raksasa Ramanujan.
Ia lantas mengundang pemuda lugu tersebut untuk mengunjungi Cambridge guna bekerjasama mengembangkan berbagai teori bilangan. Kolaborasi keduanya menghasilkan teorema-teorema yang hingga kini masih menggema dalam labirin ilmu pengetahuan.






