"Walaupun bendali ada tiga ternyata salurannya dilangsungkan ke bawah, dan parit yang dimiliki tidak terlalu besar. Memang awalnya perencanaan parit ini tidak masuk planning Dinas Pekerjaan Umum (PU) maupun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan ada pembangunan yang lebih besar dari itu. Setidaknya ini juga wajib dipikirkan setelah banjir yang terjadi di MT Haryono," urainya.
Meskipun secara resmi DPRD Balikpapan telah melakukan kunjungan lapangan, akan tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya. Karena pada saat itu DPRD meminta pihak pengembang Grand City melihat langsung supaya posisi tiga bozem yang berada di Grand City bisa menahan air.
"Menurut mereka ada tiga ternyata tidak difungsikan, karena memang harus dijaga pada saat hujan harus ditutup, ternyata karyawannya lalai. Kalau tidak ada niat baik, kerjasama yang baik tidak akan pernah terselesaikan. Itu salah satunya menghadapi persiapan IKN," ungkapnya.
Dikatakannya, apabila ini baru penduduk Balikpapan saja belum adanya pertambahan penduduk jika IKN telah pindah.
Infrastruktur untuk masyarakat Balikpapan cukup saja tetapi harus dipersiapkan jangka pendek dan jangka panjang pada saat pembangunan IKN berjalan. Tentunya, jumlah penduduk semakin bertambah.
"Bagaimana bertambah lagi, bagaimana perluasan dengan tempat tinggal. Pembangunan IKN itu bukan 1-2 tahun dan semua nanti warga pendatang akan tinggal di Balikpapan," seru Dapil Wilayah Balikpapan Utara ini.
Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua RT 65 Susanto menjelaskan, bahwa banjir yang terjadi di wilayah RT 65, dikarenakan adanya pengelupasan lahan di Grand City, sehingga sungai terjadi pendangkalan dan mengakibatkan gorong-gorong buntu.
"Gorong-gorong buntu karena banyak penebangan atau kayu-kayu di buang yang mengakibatkan gorong-gorong di dekat Masjid Al Qobul buntu," pungkasnya.
(BorneoFlash.com/Niken)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar