Walaupun tidak diketahui kuota solar sebelumnya tetapi kenyataan di lapangan sebelum adanya covid-19 belum terjadi kelangkaan solar seperti ini. Meskipun antrian tidak berlebihan seperti saat ini.
"Pihak terkait siapa tau bisa membantu kami barangkali ada mafia migas supaya bisa kita tuntut, kemana solar subsidi ini sehingga langkah," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PKC PMII Kaltimra Zainudin melihat Pertamina seperti tidak serius menangani permasalahan solar ini. Beberapa minggu terakhir ini para supir mengantri solar hingga 3-4 hari.
"Kami meminta transparansi berapa solar subsidi dan solar industri. Kami juga curiga apakah memang solar kita ini dicuri atau tidak, karena statement dari Pertamina bahwa kuotanya lebih daripada kebutuhan sopir-sopir yang ada di Balikpapan tapi kenyataannya selalu kurang berarti ada ketidaksinkronan antara pihak Pertamina dan apa yang terjadi lapangan," tegasnya.
Ia menduga adanya fakta bahwa satu tahun lalu pernah terjadi pencurian solar dan SPBU itu juga banyak petugas yang nakal, bahwa seharusnya satu truk SOP hanya 100 liter karena tangkinya lebih besar maka melebihi dari kuota.
"Banyak sopir melaporkan kepada kita demikian, pihak Pertamina proses pengawasannya tidak ketat sehingga wajar solar subsidi ini banyak hilang dan orang yang antri berhari-hari tidak dapat," tutupnya.
(BorneoFlash.com/Niken)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar