Berita Kalimantan Timur

Turis Padat, Sinyal Maratua Melambat: Tantangan Digitalisasi di Pulau Wisata

lihat foto
Sekretaris Kampung Payung-Payung, Rino saat menerima kunjungan Direktur Utama Bakti, Fadhilah Mathar, pada Kamis (11/6/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Sekretaris Kampung Payung-Payung, Rino saat menerima kunjungan Direktur Utama Bakti, Fadhilah Mathar, pada Kamis (11/6/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BERAU - Digitalisasi kini memang telah mengubah total wajah pelayanan publik di Pulau Maratua, yang masuk wilayah administratif Kabupaten Berau ini. Pemerintah 4 kampung yang ada tidak lagi menggunakan tumpukan kertas untuk mengurus data warga. 

Mereka mengirimkan laporan bulanan, mengelola anggaran, hingga memperbarui data kependudukan secara daring. Sayangnya, ketergantungan pada ruang digital ini melahirkan kecemasan baru saat kualitas sinyal mulai naik turun.

Masalah utama muncul ketika arus pelancong mulai memadati destinasi wisata premium ini. Ratusan gawai milik wisatawan berburu sinyal yang sama dengan gawai milik petugas pelayanan publik. 

Beban jaringan yang melonjak drastis ini langsung mencekik kecepatan internet lokal hingga ke titik terendah. Akibatnya, urusan administrasi warga dan aktivitas belajar anak sekolah sering kali harus mengalah.

"Proses unggah data administrasi sering membutuhkan waktu lebih lama ketika kualitas internet menurun," ujar Sekretaris Kampung Payung-Payung, Rino, pada Kamis (11/6/2026).

Keluhan serupa juga menggema dari pusat pemerintahan kecamatan yang letaknya tidak berjauhan. Kedatangan pelancong domestik maupun mancanegara yang membawa berkah ekonomi ternyata menyisakan tantangan infrastruktur yang nyata. 

Lonjakan pengguna ini secara otomatis menurunkan kualitas koneksi dan memperlambat seluruh sendi aktivitas publik berbasis digital.

"Arus kunjungan wisatawan yang tinggi turut meningkatkan penggunaan jaringan internet," kata Sekretaris Kecamatan Maratua, Armin Mashuri.


Pemerintah pusat lewat Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi mencoba memperhatikan dan mencari solusi atas kondisi internet pulau terluar ini. 

Mereka terus memetakan skala prioritas agar pelayanan dasar masyarakat tidak tumbang oleh industri pariwisata. Negara berkomitmen mendahulukan fasilitas publik esensial daripada sekadar kebutuhan hiburan di media sosial.

"Kami tetap pada prioritas kerja yang sudah ditetapkan, yakni mendukung pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat," tegas Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar.

Pihak BAKTI juga terus mendorong operator seluler swasta untuk masuk dan memperluas kapasitas jaringan komersial di Maratua.

Langkah kolaborasi ini menjadi kunci agar para turis tetap bisa membagikan keindahan pulau, sementara roda pemerintahan desa bisa melesat tanpa hambatan. 

Sinyal yang merata pada akhirnya akan memastikan bahwa kemajuan teknologi membawa berkah bagi semua pihak.

lihat foto
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

Meski begitu, Fadhilah tetap mengupayakan evaluasi dan rencana tindak lanjut atas usulan dari pemerintah setempat. Karena ini juga terkait upaya peningkatan ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan. Mengingat pulau ini menjadi tujuan favorit dengan keindahan alam bawah lautnya. 

“Kami paham sekali operator swasta punya hitungan bisnis. Kalau tidak untung yang gak bakalan mau masuk. Makanya pemerintah yang masuk. Semua usulan akan kami tampung dan pertimbangkan,” pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar