BorneoFlash.com, SAMARINDA – Kenaikan harga bawang merah dan bawang putih mulai dirasakan masyarakat di Kota Samarinda. Dalam beberapa hari terakhir, harga kedua komoditas tersebut meningkat cukup tajam di tingkat pedagang, sehingga memengaruhi pola belanja konsumen.
Sejumlah pedagang menyebut lonjakan harga terjadi akibat kenaikan harga dari daerah pemasok. Kondisi tersebut membuat mereka terpaksa menyesuaikan harga jual meski berpotensi mengurangi daya beli masyarakat.
Alam (31), pedagang sembako di Pasar Segiri Samarinda, mengatakan kenaikan harga mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, pedagang hanya mengikuti harga yang sudah lebih dulu naik dari distributor maupun daerah asal barang.
“Harga yang naik ini berasal dari pemasok. Kami hanya menyesuaikan dengan harga yang berlaku agar tetap bisa menjual barang,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, pada Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan, bawang merah yang sebelumnya dijual sekitar Rp55 ribu per kilogram kini mencapai Rp70 ribu per kilogram. Selain faktor pasokan, perbedaan harga juga dipengaruhi asal komoditas yang dijual.
Jika sebelumnya stok banyak berasal dari Sulawesi, saat ini sebagian besar didatangkan dari Probolinggo dengan ukuran yang relatif lebih besar.
Kondisi serupa terjadi pada bawang putih. Di tingkat grosir, harga per karung melonjak dari sekitar Rp410 ribu menjadi Rp610 ribu. Adapun untuk penjualan eceran, harga bawang putih naik dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Meski sempat membuat pembeli terkejut, Alam menilai masyarakat biasanya akan kembali berbelanja setelah beberapa hari jika harga tidak mengalami perubahan lagi.
“Biasanya konsumen memang kaget saat harga baru naik. Namun setelah beberapa hari dan harga tetap berada di level yang sama, mereka akan mulai menyesuaikan kebutuhan belanjanya,” katanya.
Menurut Alam, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kenaikan harga bawang saat ini. Selain cuaca yang kurang mendukung produksi pertanian, kondisi ekonomi juga disebut turut memberikan dampak terhadap harga di pasaran.
Ia menuturkan, tingginya curah hujan dapat memengaruhi kualitas maupun jumlah hasil panen karena kelembapan yang meningkat. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai ikut memberi tekanan terhadap harga komoditas yang beredar di pasar. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar