Hasil panen petani di kawasan tersebut selama ini juga telah terserap melalui kerja sama dengan Bulog, sehingga petani memiliki kepastian pasar untuk gabah mereka.
Dalam kesempatan itu, Bagus berdiskusi langsung dengan kelompok tani Gunung Binjai, mengenai kebutuhan yang diperlukan para petani maupun kendala yang dihadapinya dalam mengelola puluhan hektar sawah padi ini.
Salah satu anggota Kelompok Tani Karya Bina Bersama, Nasir, mengatakan dirinya telah bergabung sebagai petani sejak 2007 dan masih aktif mengelola sawah hingga saat ini.
Menurut Nasir, petani di kawasan Gunung Binjai mampu melakukan panen dua kali dalam setahun dengan hasil rata-rata sekitar lima ton setiap panen. “Rata-rata paling sering sekitar lima ton,” ujarnya.
Kelompok tani yang aktif mengelola sawah saat ini menggarap lahan sekitar 40 hektare. Seluruh hasil panen dijual ke Bulog dengan harga gabah berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram.
“Harganya stabil. Selama ini hasil panen masuk ke Bulog,” katanya.
Meski begitu, petani masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama serangan hama tikus yang dinilai cukup mengganggu produktivitas sawah.
“Kalau kendala di sini banyak hama tikus. Kami belum punya alat yang memadai untuk penanganannya,” ungkap Nasir.
Selama ini petani hanya mengandalkan racun tikus untuk mengurangi serangan hama. Mereka berharap ada bantuan alat pertanian dan pengendalian hama agar hasil panen semakin optimal.

Nasir juga menyebut kondisi irigasi saat ini cukup baik dan mampu memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
Di kawasan Gunung Binjai sendiri terdapat lima kelompok tani, namun hanya Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang masih aktif mengelola persawahan secara optimal.
Adanya dukungan infrastruktur, pengembangan lahan baru, dan keterlibatan petani lokal, kawasan persawahan Gunung Binjai diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sentra produksi pangan utama di Kota Balikpapan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar