Berita Kukar Terkini

Bullying Jadi Kasus Kekerasan Anak Tertinggi di Kukar, Pengaruh Gadget hingga Medsos Jadi Sorotan

lihat foto
Ilustrasi pada bullying di lingkungan pendidikan.
Ilustrasi pada bullying di lingkungan pendidikan.

BorneoFlash.com, KUKAR - Fenomena perundungan atau bullying di kalangan anak-anak di Kutai Kartanegara (Kukar) kian memprihatinkan. 

Di tengah masifnya penggunaan gadget dan media sosial, kasus kekerasan terhadap anak justru terus bermunculan dan didominasi tindakan bullying antarsesama anak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah, mengungkapkan ratusan kasus kekerasan terhadap anak tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Dari seluruh laporan yang masuk, bullying masih menjadi kasus paling dominan.

“Kasus yang paling banyak kami tangani memang bullying. Setelah itu baru kekerasan seksual terhadap anak,” ungkapnya, pada Selasa (19/5/2026).

Menurut Syafliansyah, perkembangan era digital menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi perilaku anak saat ini.

Paparan konten media sosial dinilai membuat sebagian anak lebih agresif dan mudah melakukan tindakan merendahkan hingga menyakiti teman sebaya.


Ia menilai kondisi tersebut tak bisa dianggap sepele karena dampaknya bisa memengaruhi mental dan tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

“Anak-anak sekarang hampir tidak lepas dari gadget. Karena itu pengawasan orang tua harus benar-benar diperketat, baik saat anak bermain media sosial maupun ketika bergaul di lingkungan sekitar,” bebernya. 

Selain bullying, DP3A Kukar juga masih menangani kasus kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak hingga dugaan tindak pidana perdagangan orang yang melibatkan anak di bawah umur.

Meski penanganan laporan terus diperkuat melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, Syafliansyah mengakui tantangan terbesar justru berada pada upaya pencegahan di tingkat masyarakat.

Menurutnya, pengawasan keluarga tetap menjadi benteng utama untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak sejak dini.

“Kalau lingkungan keluarga kuat dalam pengawasan dan pendampingan, potensi anak menjadi korban maupun pelaku kekerasan bisa ditekan,” tutup Syafliansyah. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar