Berita Ekonomi

Biofuel B50: Strategi Indonesia Hadapi Harga Energi Global

zoom-inlihat foto
 Buah kelapa sawit sebagai bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). FOTO: BorneoFlash.com/ilustrasi/Fransisco Carolio/tom.
Buah kelapa sawit sebagai bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). FOTO: BorneoFlash.com/ilustrasi/Fransisco Carolio/tom.

BorneoFlash.com, JAKARTA - Harga energi global yang kembali berfluktuasi mendorong Indonesia menghadapi tantangan ketergantungan impor di tengah kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.

Harga minyak dunia berada di kisaran 100 dolar AS per barel akibat gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik. Gangguan distribusi di Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko global.

Kondisi ini meningkatkan biaya impor energi, menekan anggaran subsidi, dan memicu potensi inflasi. Di sisi lain, produksi minyak domestik belum mampu memenuhi konsumsi nasional. Ketergantungan impor energi pun membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global.

Biodiesel Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Pemerintah mengandalkan biofuel berbasis minyak sawit sebagai solusi cepat untuk meredam dampak fluktuasi harga energi global. Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan program biodiesel guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Pemerintah menargetkan peningkatan bauran biodiesel hingga B50 untuk menekan impor energi dan menjaga pasokan domestik. Kebijakan ini melanjutkan implementasi bertahap dari B20, B30, B35, hingga B40 sebagai mandatori saat ini.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan biodiesel mampu mengurangi impor solar dan menjaga stabilitas energi. Pemerintah juga menetapkan alokasi biodiesel 2026 sebesar 15,65 juta kiloliter.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar