BorneoFlash.com, JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan rencana penambahan variasi kemasan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi 2 kilogram (kg).
Sebelumnya, Bulog hanya menyediakan kemasan 5 kg. Langkah ini bertujuan menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat membeli beras dengan harga terjangkau dalam jumlah lebih kecil.
Rizal menyatakan kebijakan ini merespons penurunan daya beli sebagian masyarakat. Ia menjelaskan, pada 2025 Bulog menyalurkan SPHP hanya dalam kemasan 5 kg. Tahun ini, Bulog menambah kemasan 2 kg agar masyarakat lebih fleksibel dalam membeli sesuai kemampuan.
“Penambahan ini kami lakukan karena masih ada masyarakat dengan kemampuan beli sangat terbatas, sehingga mereka membutuhkan kemasan lebih kecil,” ujar Rizal dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Selain menambah ukuran kemasan, Bulog juga meningkatkan batas pembelian. Sebelumnya, masyarakat hanya dapat membeli maksimal dua kemasan per transaksi. Kini, Bulog memperluas batas tersebut menjadi lima kemasan.
Di sisi lain, Bulog menaikkan kapasitas pemesanan bagi pengecer. Jika sebelumnya pengecer hanya dapat memesan maksimal 2 ton, kini mereka dapat memesan lebih dari 4 ton dalam satu kali pemesanan.
Selanjutnya, Bulog memperluas jalur distribusi dengan melibatkan distributor Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kebijakan ini menjadi perubahan karena pada tahun sebelumnya Bulog belum melibatkan distributor daerah.
Bulog juga mengubah pola penyaluran. Pada 2025, Bulog menyalurkan beras secara bertahap (on-off). Sementara itu, pada tahun ini Bulog menyalurkan beras sepanjang tahun tanpa jeda.
Namun demikian, Bulog menurunkan target penyaluran tahun ini. Target mencapai 825 ribu ton, lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 1,5 juta ton. Penurunan ini mengikuti pagu anggaran dari Kementerian Keuangan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar