BorneoFlash.com, JAKARTA - Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan, pada Senin (9/3/2026).
Salah satu sentimen utama yang memicu tekanan terhadap pasar saham adalah lonjakan harga minyak mentah global yang telah menembus level USD 100 per barel di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance di kisaran 7.460–7.860,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer Iran serta menyerang infrastruktur energi, termasuk depot penyimpanan minyak dan fasilitas terkait di sekitar Teheran dan Provinsi Alborz.
Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran besar di beberapa lokasi.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke Israel serta menargetkan sejumlah aset militer Amerika Serikat, termasuk pangkalan militer di beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang terus berlanjut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak dunia. Hal ini karena kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global.
Berdasarkan data perdagangan pagi hari sekitar pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah dunia melonjak signifikan. Crude Oil WTI tercatat mencapai USD 109,82 per barel, sementara Brent Oil berada di level USD 109,53 per barel.
“Kami menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik memengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global,” jelas Nico.
Selain sentimen global, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan ekonomi dalam negeri. Pemerintah saat ini membuka opsi penyesuaian anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia memberi tekanan terhadap APBN 2026.
Tanpa langkah penyesuaian kebijakan, defisit anggaran negara diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah dapat menempuh kebijakan efisiensi belanja negara serta menunda sejumlah proyek infrastruktur guna menjaga disiplin fiskal dan menahan pelebaran defisit anggaran.
Namun langkah tersebut juga berpotensi memperlambat realisasi proyek pembangunan dan aktivitas ekonomi, khususnya di sektor konstruksi.
“Apabila pada akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya dapat memicu kenaikan inflasi, meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat,” kata Nico.
Sementara itu, sentimen negatif juga datang dari pasar global. Pada perdagangan Jumat (6/3/2026), bursa saham Amerika Serikat di Wall Street kompak ditutup melemah.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55, indeks S&P 500 melemah 1,33 persen ke posisi 6.740,02, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,59 persen menjadi 22.387,68.
Di dalam negeri, pada perdagangan Jumat (6/3/2026) pekan lalu, IHSG juga ditutup melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke level 7.585,68.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar