Inflasi Terkendali, Daya Beli Warga Balikpapan Tetap Kuat di Tengah Tekanan Cuaca dan Nataru

oleh -
Penulis: Niken Sulastri
Editor: Ardiansyah
Daging ayam salah satu penyumbang inflasi di Balikpapan. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Daging ayam salah satu penyumbang inflasi di Balikpapan. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
banner 300×250

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir tahun, perekonomian Kota Balikpapan menunjukkan daya tahan yang solid. 

 

Bank Indonesia mencatat inflasi Kota Balikpapan sepanjang 2025 masih terkendali dan berada dalam sasaran nasional, seiring tetap kuatnya daya beli masyarakat.

 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Balikpapan pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (month to month). 

 

Dengan capaian tersebut, inflasi Balikpapan sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat 2,71 persen, masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.

 

“Secara tahunan, inflasi Balikpapan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen, meski sedikit lebih tinggi dari rata-rata empat kota di Kalimantan Timur,” ujar Robi.

 

Tekanan inflasi pada akhir tahun terutama dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,37 persen (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Balikpapan, Robi Ariadi. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Balikpapan, Robi Ariadi. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

Sejumlah komoditas seperti angkutan udara, cabai rawit, ikan layang, bawang merah, dan daging ayam ras mengalami kenaikan harga. Kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi lonjakan permintaan perjalanan, khususnya pada rute Balikpapan–Surabaya dan Balikpapan–Makassar. 

 

Sementara itu, harga bahan pangan naik akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi yang terdampak curah hujan tinggi serta gelombang laut. Meski demikian, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga pada beberapa komoditas lain. 

 

Kelompok Pakaian dan Alas Kaki tercatat menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen (mtm), didorong turunnya harga komoditas hortikultura seperti kacang panjang, tomat, ketimun, dan buncis, seiring meningkatnya pasokan lokal.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.