Boni menambahkan, meskipun secara kuantitas kasus menurun, jaringan peredaran narkoba justru semakin luas dan lintas wilayah, bahkan lintas negara.
Sepanjang 2025, BNN Balikpapan menangani sejumlah kasus yang melibatkan warga negara Malaysia yang membawa sabu ke wilayah Kalimantan.
“Pertimbangan mereka, satu kilogram sabu lebih cepat habis terjual di Kalimantan dibandingkan Jakarta. Ini menunjukkan daya serap yang tinggi dan menjadi perhatian serius,” ungkapnya.
BNN masih mendalami apakah tingginya permintaan tersebut berkaitan dengan sektor tertentu, seperti pertambangan, perkebunan, atau sektor hiburan.
Ke depan, BNN Balikpapan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat upaya pencegahan, rehabilitasi, serta pengawasan peredaran narkotika, termasuk mengantisipasi munculnya jenis narkoba baru.
“Pemberantasan narkoba tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan peran keluarga, sekolah, dunia usaha, dan masyarakat agar Balikpapan tetap menjadi kota yang aman dan sehat,” pungkas Boni.
Sementara itu, Kepala Tim Rehabilitasi BNN Kota Balikpapan, dr. Henny Damayanti, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 13 klien berusia 12–16 tahun dan sekitar 14 klien berusia 17–25 tahun yang menjalani rehabilitasi.
“Klien termuda berusia 14 tahun dan masih berstatus pelajar. Ini menjadi alarm penting bagi upaya pencegahan di lingkungan keluarga dan pendidikan,” ujarnya.
Terkait kasus kambuh (relapse), dr. Henny menjelaskan bahwa beberapa klien rehabilitasi tahun 2024 kembali relapse pada 2025. Namun kasus tersebut berasal dari kelompok usia produktif, bukan pelajar atau mahasiswa. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar