Djauhari juga menyoroti hubungan bilateral Indonesia–China. Setelah dilantik pada November 2021, Presiden Prabowo Subianto menjadikan China sebagai tujuan kunjungan kenegaraan pertama, yang menurutnya mencerminkan kedekatan hubungan kedua negara.
Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing pada 3 September 2025 memperkuat bukti eratnya kemitraan strategis tersebut sekaligus menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Ia mengingatkan bahwa sejak era 1950, para pendiri bangsa memilih membangun diplomasi berbasis solidaritas di tengah ketidakstabilan dunia, yang kemudian melahirkan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.
Kini, di tengah ketidakpastian global, ia menilai penting untuk kembali menegaskan komitmen pada Semangat Bandung.
Djauhari menambahkan bahwa selama lebih dari 75 tahun, kemitraan RI–China terus berkembang. Pada 2024, volume perdagangan kedua negara mencapai 147,79 miliar dolar AS, sementara investasi China dan Hong Kong masing-masing senilai 8,1 miliar dolar AS. Ia menyebut potensi kerja sama masih terbuka lebar, termasuk di sektor pariwisata dengan target 1,6 juta wisatawan China ke Indonesia tahun ini, serta bidang pendidikan yang menjadikan China sebagai salah satu destinasi utama mahasiswa Indonesia.
Menurutnya, nilai bersama yang dimiliki kedua bangsa akan terus memperkuat hubungan lebih dekat dan strategis ke depan.
Resepsi juga dimeriahkan dengan penampilan seni budaya Indonesia, mulai dari tari Jengger dari Bali, tari Tak Tong Tong dari Sumatera Barat, hingga tari kreasi modern yang dibawakan mahasiswa Papua Barat Daya di Jining Polytechnic, Provinsi Shandong. (*/ANTARA)





