“Kami sangat berharap Jepang bisa mendukung efisiensi dan keberlanjutan pengelolaan air bersih di kota ini. Krisis air baku sudah terlalu besar, dan kami menargetkan sebagian implementasi kerja sama ini sudah bisa mulai 2027–2028,” tambah Murni.
Selain air, sektor transportasi juga menjadi agenda penting. Jepang menawarkan bantuan teknologi manajemen lalu lintas modern yang mampu menghitung jumlah kendaraan dan emisi secara otomatis sangat berbeda dari sistem manual yang saat ini masih digunakan di Balikpapan.
“Mereka tidak mencampuri kebijakan, tapi memberikan alternatif solusi berbasis teknologi. Ini akan sangat relevan untuk mendukung pembangunan transportasi massal dan manajemen lalu lintas di kota yang makin padat,” jelas Murni.
Murni menekankan bahwa meskipun prosesnya tidak instan, arah kebijakan kota sudah jelas, Balikpapan harus bergerak menuju pengelolaan kota berbasis teknologi. “Mau tidak mau, kita harus menuju ke sana. Tidak mungkin terus bertahan dengan sistem yang lama.”
Kerja sama antara Balikpapan dan Yokohama juga menempatkan kota ini dalam lingkaran strategis kota-kota di Indonesia yang sudah terlebih dulu dibantu oleh Jepang, seperti Makassar dan Jakarta.
Dengan semangat kolaborasi dan visi yang jelas, Balikpapan menatap masa depan sebagai kota cerdas, tangguh, dan berkelanjutan dengan dukungan teknologi global untuk mengatasi persoalan lokal.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar