BorneoFlash.com, SAMARINDA – Upaya Kalimantan Timur (Kaltim) dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) kini menyentuh sektor strategis: pendidikan menengah.
Pemerintah provinsi (Pemprov) mulai mendorong sekolah-sekolah negeri unggulan untuk mengadopsi kurikulum internasional, sebagai langkah awal menuju sistem pembelajaran bertaraf global.
Kurikulum Cambridge yang selama ini dikenal luas di berbagai negara maju, menjadi salah satu opsi yang sedang dikaji penerapannya di Kaltim.
Pemerintah daerah menilai, pendekatan berbasis kurikulum internasional akan membuka jalan yang lebih luas bagi generasi muda untuk bersaing di panggung global, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja.
Wakil Gubernur Kaltim, H. Seno Aji, menyatakan bahwa visi besar ini lahir dari kebutuhan mendesak akan transformasi kualitas pendidikan yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan dinamika global.
“Kita ingin anak-anak Kaltim punya kesempatan yang sama untuk menembus pendidikan tinggi internasional. Karena itu, kurikulum berstandar global perlu mulai kita perkenalkan di sekolah negeri unggulan,”ujarnya.
Menurut Seno, langkah ini bukan semata-mata untuk mengejar pengakuan global, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia digital dan industri masa depan.
Ia menilai, saat ini kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah Indonesia timur dan barat masih cukup signifikan, dan harus segera dijembatani dengan terobosan kebijakan.
“Bukan hanya soal bahasa Inggris sebagai pengantar, tetapi juga bagaimana pola pikir, metode belajar, dan standar asesmen internasional bisa diterapkan secara merata,” jelasnya.
Pemprov juga menegaskan bahwa upaya ini akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan masing-masing sekolah.
Tiga sekolah sudah masuk dalam tahap awal penjajakan, namun perlu ada penguatan dari sisi anggaran dan pelatihan tenaga pendidik.
“Kalau harus dimulai dari satu sekolah dulu pun tidak masalah. Yang penting, hasilnya terukur dan bisa direplikasi ke sekolah lain,”tegas Seno.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembelajaran global dan nilai-nilai lokal.
Meski mengadopsi sistem luar, pendidikan di Kaltim tetap akan ditanamkan dengan karakter kebangsaan dan kearifan budaya daerah.
“Kita tidak sedang menghapus identitas lokal. Justru, kita ingin anak-anak ini tumbuh sebagai warga global yang tetap berpijak pada budaya dan nilai-nilai bangsa,”pungkasnya.
Transformasi ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga inklusif terhadap perkembangan dunia yang kian dinamis. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar