BorneoFlash.com, OPINI - Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan arah dan jalannya sistem politik. Pemahaman tentang hak, kewajiban, serta peran serta dalam politik bukan hanya penting untuk memperkuat demokrasi, tetapi juga untuk mewujudkan tata kelola negara yang adil dan sejahtera.
Namun, tingkat kesadaran masyarakat terhadap ketiga aspek ini masih menjadi tantangan besar dalam banyak negara, termasuk Indonesia.
Hak politik masyarakat meliputi hak untuk memilih dan dipilih, hak untuk berpendapat, hak untuk berkumpul, dan hak untuk berpartisipasi dalam berbagai proses politik lainnya. Hak-hak ini dijamin oleh konstitusi dan berbagai instrumen hukum nasional maupun internasional. Melalui hak ini, masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam membentuk pemerintahan yang merepresentasikan aspirasi mereka.
Di sisi lain, kewajiban politik masyarakat juga harus dipahami secara mendalam. Kewajiban ini mencakup, antara lain, menghormati hukum dan aturan yang berlaku, membayar pajak, serta berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan ketertiban negara. Tanpa pemenuhan kewajiban oleh warga negara, hak-hak yang diberikan akan kehilangan makna, karena hak dan kewajiban adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem demokrasi.
Selain hak dan kewajiban, peran serta masyarakat dalam politik menjadi kunci utama keberhasilan sebuah sistem politik. Peran serta ini tidak hanya sebatas memberikan suara dalam pemilu, tetapi juga terlibat dalam proses perumusan kebijakan, pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, serta memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui berbagai sarana demokratis. Masyarakat yang aktif dalam politik mampu mendorong transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan publik yang lebih baik.
Sayangnya, dalam praktiknya, tingkat pemahaman dan partisipasi masyarakat masih belum optimal. Faktor pendidikan politik yang rendah, ketidakpercayaan terhadap institusi politik, serta budaya apatis menjadi penghambat utama.
Banyak masyarakat yang hanya memahami haknya untuk memilih, tetapi kurang memahami pentingnya keterlibatan setelah pemilu berakhir. Di sisi lain, kewajiban-kewajiban politik sering kali dianggap sebagai beban, bukan sebagai bentuk kontribusi kepada negara.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak, kewajiban, dan peran serta dalam politik membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat pendidikan politik sejak dini melalui kurikulum pendidikan formal maupun program-program sosialisasi.
Media massa juga memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi politik yang jujur dan edukatif. Selain itu, organisasi masyarakat sipil harus terus mendorong keterlibatan warga melalui berbagai inisiatif pemberdayaan.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hak, kewajiban, dan peran serta dalam politik, masyarakat dapat menjadi aktor utama dalam membangun sistem politik yang lebih demokratis, adil, dan berkelanjutan. Partisipasi aktif warga negara bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
Masyarakat dengan kesadaran politik rendah cenderung apatis
Jika masyarakat kurang memahami hak-hak politiknya, tidak kritis terhadap kebijakan, dan jarang terlibat dalam proses politik (seperti pemilu atau pengawasan terhadap pemerintah), mereka menjadi lebih mudah dipengaruhi, dibohongi, atau dimanfaatkan oleh penguasa.
Penguasa lebih mudah melakukan manipulasi
Rendahnya partisipasi dan ketidakpedulian masyarakat memberi ruang bagi penguasa untuk: Membuat kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu, Menyebarkan propaganda atau informasi menyesatkan tanpa banyak perlawanan serta Melanggengkan kekuasaan melalui kecurangan pemilu, pembungkaman oposisi, atau pengendalian media.
Siklus berulang
Manipulasi ini memperburuk lagi tingkat pendidikan politik masyarakat, menciptakan lingkaran setan: masyarakat tetap tidak sadar, manipulasi terus terjadi, dan demokrasi (atau sistem politik yang adil) semakin melemah.
Minimnya kontrol dan akuntabilitas
Dalam situasi ini, penguasa merasa tidak perlu bertanggung jawab di hadapan rakyat, karena tahu bahwa rakyat tidak akan menuntut perubahan atau transparansi secara aktif.
Kesimpulan:Rendahnya kesadaran politik masyarakat menciptakan peluang bagi penguasa untuk melakukan manipulasi kekuasaan. Sebaliknya, manipulasi kekuasaan semakin menekan perkembangan kesadaran politik masyarakat. Oleh karena itu, meningkatkan pendidikan politik rakyat menjadi kunci utama untuk mencegah manipulasi ini.
Kesadaran politik masyarakat adalah fondasi penting dalam menjaga kedaulatan rakyat dan mencegah berbagai bentuk manipulasi, seperti penyebaran hoaks, politik uang, propaganda menyesatkan, hingga penyalahgunaan kekuasaan.
Saat masyarakat memiliki kesadaran politik yang tinggi, mereka akan lebih kritis terhadap informasi yang diterima, berpartisipasi aktif dalam proses politik, seperti pemilu dan diskusi kebijakan, mengawasi kinerja pemimpin dan berani menuntut akuntabilitas, menolak politik transaksional yang merusak demokrasi dan mendorong lahirnya pemimpin yang berkualitas, bukan sekadar populer. Sebaliknya, rendahnya kesadaran politik membuka celah besar bagi pihak-pihak yang ingin memanipulasi opini publik dan melemahkan demokrasi dari dalam. (
*) Nama Penulis : Agus Priyono Marzuki S.Pd No WhatsApp : 0857 9218 5490 E-mail : agus16priyono.marzuki@gmail.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar