BorneoFlash.com, OPINI - Bagi saya, Yusuf lebih dari sekadar sahabat—ia mentor, saudara, dan guru dalam dunia literasi. Sejak awal 2000-an, ia sudah menjadi legenda di kalangan mahasiswa pegiat komunitas epistemik Yogyakarta yang haus akan ilmu dan pemikiran.
Tidak mengenyam pendidikan formal hingga tuntas; berkali-kali ia masuk universitas, lalu memilih drop out. Bukan tersebab gagal, tetapi karena bosan. Yusuf lebih suka belajar dari buku-buku yang ia temukan sendiri, dari diskusi-diskusi liar di warung kopi, dan dari perjumpaan intelektual di luar ruang kelas.
Sejak muda, Yusuf memburu kata-kata dengan rakus. Ia menulis dengan tingkat produktifitas dan ketajaman yang mampu membuat banyak akademisi malu. Hingga hari ini puluhan buku telah dihasilkannya. Bukan genre fiksi melainkan karya-karya apik seputar peradaban literasi yang menjadi minatnya.
Bukan hanya itu. Ia adalah momok dalam kompetisi esai maupun karya ilmiah. Orang-orang yang dikalahkannya dalam kompetisi semacam itu pun bukan sembarangan. Sekelas doktor bisa dipaksanya bertengger di posisi kedua atau ketiga dalam perebutan juara.
Saya mengenal sosok Yusuf sebagai seorang kutu buku paripurna yang selalu bersemangat mengajari para mahasiswa lintas kampus keterampilan olah kata cuma-cuma. Meski hidupnya penuh kekurangan dari sisi materi, ia tidak pernah memungut biaya atas pengajarannya.
Pria asal Cirebon ini menggantungkan penghasilan dari karya tulis yang secara rutin dikirimkan ke harian lokal maupun nasional.
Yusuf adalah tipikal otodidak yang hidup berpetualang dari buku ke buku. Kerakusan dan ketekunannya dalam melahap pagina demi pagina selalu membuat saya tertegun.
Maka tulisannya disarati bobot pengetahuan dan inspirasi yang begitu kaya. Banyak anak muda khususnya mahasiswa di Yogyakarta mengagumi gaya tulisan dan prestasinya. Jangan tanya berapa banyak muridnya yang kini jadi “orang”, entah sebagai tokoh publik, ilmuwan, atau akademisi. Tak terhitung.
Yusuf kini memiliki sebuah rumah dengan koleksi belasan ribu buku istimewa di desa Samben, pinggiran Yogyakarta. Koleksi yang ia kumpulkan semenjak muda bertengger rapi di perpustakaan pribadinya.
Samben Library namanya. Hingga kini ia masih setia menerima siapapun yang bertamu untuk sekadar menumpang baca dan berdiskusi. Mahasiswa jenjang strata 1 hingga 3 tak sungkan untuk meminta bimbingannya dalam tugas akhir.
Seperti Ramanujan dan Slamet, jejak pustaka begitu nyata membersamai takdir Yusuf. Jika Ramanujan menemukan karya Carr dan Slamet terlecut “Berpikir dan berjiwa besar”, maka gairah analitis Yusuf terpantik oleh kisah pelik misteri dalam novel-novel detektif lawas yang didapatinya sewaktu remaja.
Ramanujan, Slamet, dan Yusuf memang punya cerita hidup dan prestasi yang berbeda. Namun kisah mereka juga merupakan perjalanan aneka pustaka yang berkelindan dengan agen sejarah yang bernama manusia pembelajar.
Takdir Pustaka dan Manusia yang MembacaBuku memang tak bisa memilih takdirnya sendiri, tetapi ia selalu punya cara untuk menemukan pembacanya. Ada yang bersua di rak-rak perpustakaan berdebu, ada yang tanpa sengaja menemukan di tumpukan loakan, atau seperti Slamet, di masjid tempat ia berteduh.
Setiap halaman yang terbuka adalah awal dari perubahan, entah kecil atau besar. Dan di sanalah keajaiban pustaka bekerja—ia tidak memaksa, tetapi diam-diam meresap, mengendap dalam pikiran, lalu suatu hari menyala menjadi gagasan atau keputusan yang mengubah arah hidup.
Memang, buku tidak serta-merta menjadikan seseorang luar biasa. Ia hanyalah pemantik bahan bakar yang harus dinyalakan yakni semangat belajar dan keinginan untuk berkembang.
Ramanujan bukan jenius hanya karena membaca karya Carr, tetapi karena ia melahapnya dengan lapar, mencernanya, lalu melampaui batas yang ada.
Begitu pula Slamet, yang tidak sekadar terinspirasi, tetapi menjadikan bacaan itu dorongan untuk mengubah nasibnya sendiri. Buku tidak menjanjikan keberhasilan, tetapi bagi mereka yang bersedia berjalan bersamanya, ia menyediakan jalan keluar dari keterbatasan.
Tiga kisah berbeda, tetapi terjalin dalam satu benang merah: buku yang menemukan pembacanya. Ramanujan larut di antara bilangan yang berbaris tanpa penjelasan berarti.
Motivasi Slamet meluap di perpustakaan masjid, melalui buku tua yang hampir terlupakan. Dan Yusuf terhanyut di setiap lembaran yang ia dekap sepanjang hidupnya.
Begitulah pustaka, ia tidak pernah meminta untuk dibaca, tidak pernah memaksa untuk dipahami. Tetapi bagi mereka yang bersedia menyentuhnya, ia mampu membuka gerbang takdir.
Karena sejatinya, buku tidak memilih takdirnya sendiri. Ia hanya menunggu. Menunggu seseorang yang, dengan kesadaran penuh, akan menjadikannya bagian dari perjalanan penuh makna. Dan mungkin, mungkin saja seseorang itu adalah kita.
*Penulis: Wildan Taufiq
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar