Selain itu, produksi Sabun Erai Kunyit Hitam masih terbatas, mengingat bahan bakunya (Kunyit Hitam) yang langka. "Bahan baku itu kita dapat dari teman di Jawa," sambungnya.
Karena langka dan mahal, lanjut Tutik, Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) dan LSM Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) mensupport Umo Rezeki Taka dengan prakarsai budidaya Kunyit Hitam.
"Budidaya Kunyit Hitam nanti dilakukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Harapannya Kunyit Hitam yang diproduksi bisa memenuhi kebutuhan produksi Sabun Erai Kunyit Hitam," ucapnya.
Tutik juga menyampaikan bahwa Sabun Erai sudah diperkenalkan di banyak daerah. "Sabun Erai ikut pameran di Riau, Makassar, Yogyakarta, bahkan Malaysia," ungkapnya.
Pada KTT G20 di Bali, tambah Tutik, Sabun Erai ikut mengisi stand pameran dan mengundang ketertarikan banyak pihak, salah satu orang Perancis.
"Orang Perancis tertarik bekerja sama dengan kita. Ingin membeli sabun yang kita produksi, tapi kita belum berani karena masih banyak hal yang perlu kita siapkan," jelasnya.
Disamping perluasan kapasitas produksi, tambah Tutik, legal untuk Sabun Erai. Seperti BPOM, HAKI masih dalam proses penerbitan.
"Oh iya, pada lomba TTG di Kecamatan Muara Komam, Sabun Erai juara 1. Bulan 5 nanti kita mewakili Kabupaten Paser pada lomba TTG tingkat Kaltim," pungkasnya. (Adv)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar