“Waktu itu saya jalan ke rumah kerabat yang tak jauh dari rumah saya. Disana saya melihat mereka lanjung, tikar, topi dari anyaman purun. Saya pun tertarik dan belajar membuatnya,” kenangnya.
Sambil belajar, Alinda meminta kerabatnya membuatkan tas dari anyaman purun, kemudian tas yang masih polos itu dia beri aksesoris tambahan untuk mempercantik tampilannya.
“Tas itu saya tawarkan ke semua kenalannya, kemudian lambat laun semakin banyak yang pesan,” imbuh Alinda yang juga berprofesi sebagai guru di SMK Negeri Tanah Grogot.
Karena semakin berkembang, produk kerajinan anyaman purun diberi merek Paser8, mengingat pendirinya ada 8 orang dan rumahnya pun kebetulan nomor 8.
“Kami mulai merintis dengan 1 unit mesin jahit modal sendiri, kemudian Disnakertrans Paser membantu 2 unit mesin jahit lagi untuk menambah jumlah item yang diproduksi,” ungkapnya.
Kemudian, Paser8 Kriya Purun ikut pelatihan Paser Craft yang digelar Disperindagkop UKM Paser, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Paser dan PT Buma.






