BorneoFlash.com, SENDAWAR - Sebanyak dua sekolah di Kabupaten Kutai Barat yang menerapkan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Sekolah, secara perlahan siswanya mulai terpapar Covid-19.
Sekolah yang siswanya terpapar Covid-19 itu diantaranya adalah SMP Negeri 1 Sendawar dan SDK 004 WR. Soepratman Barong Tongkok.
Siswa SMP Negeri 1 Sendawar yang terpapar Covid-19 berjumlah satu orang. Hal itu diketahui saat saat petugas Dinas Kesehatan Kutai Barat melakukan pengambilan sampel Covid-19 secara acak melalui swab test antigen kepada 36 siswa dan 5 orang guru pada Selasa kemarin (15/2/2022).
Sementara satu murid di SDK 004 WR Soepratman Barong Tongkok, diketahui positif Covid-19 juga melalui pemeriksaan secara acak oleh petugas sehari sebelumnya.
Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat, Silvanus Ngampun meminta sekolah yang siswanya terpapar Covid-19 agar menghentikan sementara kegiatan PTM terbatas di sekolah.
" Langkah pertama adalah sekolah menghentikan sementara PTM terbatas, minimal tiga hari atau maksimal 5 hari sesuai dengan SKB4 Menteri.
Kemudian berkoordinasi dengan pihak Puskesmas untuk tracking lagi kepada kelas yang positif itu.
Kemudian pembelajaran akan dilanjutkan Daring atau Luring PJJ. Yang jelas itu tetap ada pembelajaran tetapi tidak lagi tatap muka," kata Silvanus Ngampun, Rabu (16/2/2022).
Silvanus mengatakan, seluruh lingkungan sekolah tersebut juga harus dilakukan sterilisasi penyemprotan desinfektan dan meminta kepada seluruh siswa untuk tidak berkeliaran di lingkungan masyarakat.
" Sekolah harus disemprot disinfektan. Sekolah menyampaikan kepada anak-anak ketika di rumah tidak keluyuran dan selalu mentaati protokol kesehatan," ujarnya.
Untuk mengantisipasi adanya sekolah lain yang siswanya ikut terpapar Covid-19, pihaknya saat ini masih menunggu hasil rapat dan kebijakan tim gugus tugas Kutai Barat apakah kegiatan PTM di Sekolah-sekolah yang ada masih tetap berjalan seperti biasa, atau kembali dialihkan lagi ke dalam jaringan (Daaring) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).
" Untuk sekolah yang belum ada kasus sekarang ini kan lagi rapat tim gugus. Kita menunggu hasil kebijakan tim gugus Kabupaten, kalau mereka mengatakan PTM dihentikan ya berarti kita harus mentaati. Kita akan bersurat ke sekolah supaya menghentikan PTM.
Tetapi kalau tim gugus tetap membolehkan PTM ya berarti kita tetap jalan dengan memperketat lagi protokol kesehatan," pungkasnya.
(BorneoFlash.com/Lis)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar