Pemkot Samarinda

Insinerator Samarinda Terkendala Sampah Basah, DLH Siapkan TPS Terpilah

lihat foto
Salah satu unit insinerator ramah lingkungan milik DLH Kota Samarinda yang saat ini masih dalam tahap uji coba. Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas pengolahan sampah, terutama terhadap sampah campuran yang masih didominasi limbah basah. Foto: Bo
Salah satu unit insinerator ramah lingkungan milik DLH Kota Samarinda yang saat ini masih dalam tahap uji coba. Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas pengolahan sampah, terutama terhadap sampah campuran yang masih didominasi limbah basah. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda terus mengkaji efektivitas operasional 10 unit insinerator ramah lingkungan yang saat ini masih berada pada tahap uji coba. 

Dari hasil evaluasi sementara, tingginya kandungan sampah basah dalam timbulan sampah kota menjadi salah satu faktor yang menghambat optimalisasi proses pembakaran.

Kondisi tersebut membuat kinerja insinerator belum dapat berjalan maksimal, terutama ketika sampah yang masuk masih dalam keadaan tercampur dan belum melalui proses pemilahan. DLH pun menilai pola pengangkutan sampah langsung dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menuju insinerator belum memberikan hasil yang diharapkan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah simulasi dengan menggunakan sampah yang baru diangkut dari TPS.

Namun, metode tersebut justru menimbulkan kendala karena proses pemilahan membutuhkan waktu yang cukup panjang.

“Berdasarkan hasil uji coba yang kami lakukan, sampah yang diangkut langsung dari TPS memerlukan tahapan pemilahan yang cukup lama sebelum dapat diproses di insinerator,” ujarnya, pada Sabtu (13/6/2026).

Dari hasil pengamatan di lapangan, satu dump truck yang mengangkut sekitar 3 hingga 4 ton sampah campuran dapat memerlukan waktu hingga lima hari hanya untuk proses pemisahan material. Situasi itu berdampak pada rendahnya volume sampah yang dapat dibakar.


Dalam satu kali muatan, hanya sekitar sepertiga sampah yang berhasil diproses melalui insinerator. Sementara sisanya masih harus dibawa kembali ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena tidak memenuhi syarat untuk dibakar.

Sebaliknya, hasil yang berbeda diperoleh saat insinerator menggunakan sampah yang telah dipilah sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, proses pengolahan berjalan lebih cepat dan efisien. Insinerator berkapasitas 3 ton bahkan mampu menyelesaikan pembakaran dalam waktu kurang dari setengah hari.

“Apabila sampah telah dipisahkan sejak awal, petugas hanya perlu memastikan limbah B3 tidak ikut masuk ke dalam proses pembakaran. Selebihnya dapat langsung diolah tanpa membutuhkan pemilahan tambahan,” jelas Taufiq.

Mengacu pada temuan tersebut, DLH Samarinda kini menyiapkan skema pengelolaan berbasis TPS Terpilah yang nantinya akan menjadi sumber utama pasokan sampah bagi insinerator. Program tersebut direncanakan mulai diterapkan melalui proyek percontohan di TPS Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang.

Menurut Taufiq, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga pada pengendalian akses ke lokasi TPS. Pembatasan akses dinilai penting agar proses edukasi dan pengawasan terhadap masyarakat dapat dilakukan secara lebih efektif.

Ia menilai TPS yang melayani warga dalam kawasan tertentu cenderung lebih mudah dikelola dibandingkan TPS yang berada di tepi jalan dan dapat digunakan oleh masyarakat umum tanpa pengawasan yang jelas.

“Dengan cakupan pengguna yang lebih terbatas, upaya sosialisasi dan pembinaan dapat dilakukan secara lebih terfokus. Pengalaman dari program sebelumnya menjadi bahan evaluasi agar implementasi kali ini dapat berjalan lebih optimal,” pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar