BorneoFlash.com, SAMARINDA — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda mulai mempersiapkan pembangunan dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini merupakan bagian dari kerja sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama yayasan pelaksana MBG, yang tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Persiapan pembangunan dapur saat ini masih berada pada tahap penyesuaian sarana dan pemenuhan standar teknis sesuai ketentuan yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Nantinya dapur tersebut akan menjadi salah satu titik pelaksanaan MBG di lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan layanan yang dijalankan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melalui kerja sama dengan sejumlah yayasan.
“Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bekerja sama dengan yayasan pelaksana program MBG dan mengharapkan dapur MBG dapat hadir di sejumlah lapas, termasuk di Samarinda,” ujarnya, pada Sabtu (30/5/2026).
Ia menyampaikan, pada tahap awal belum seluruh lapas di Indonesia mendapatkan program serupa. Secara nasional, baru sekitar 28 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang ditunjuk untuk menjalankannya.
“Untuk tahun ini, kurang lebih terdapat 28 UPT Pemasyarakatan di Indonesia yang mendapat kesempatan melaksanakan program tersebut,” katanya.
Yohanis menjelaskan, program MBG sebelumnya telah dijalankan di beberapa lapas sebagai proyek percontohan. Hasil pelaksanaannya dinilai positif sehingga kini mulai diperluas ke daerah lain, termasuk Kalimantan Timur.
“Setelah dilakukan evaluasi, program tersebut dinilai berjalan baik. Karena itu, pelaksanaannya mulai diperluas dan Lapas Samarinda menjadi salah satu yang dipercaya menjalankannya,” jelasnya.
Selain menyiapkan pembangunan dapur, pihak lapas juga mulai mempersiapkan tenaga pendukung dari kalangan warga binaan. Mereka nantinya akan dilibatkan dalam operasional dapur sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Menurut Yohanis, keterlibatan warga binaan juga menjadi bagian dari pembekalan keterampilan sebelum kembali ke masyarakat.
“Karena kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan lapas, sebagian tenaga pendukung memang diarahkan berasal dari warga binaan yang memenuhi persyaratan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, peserta yang dilibatkan tidak dipilih secara sembarangan. Lapas memprioritaskan warga binaan yang telah menjalani sebagian besar masa pidana dan sedang memasuki tahapan pembebasan bersyarat.
“Warga binaan yang diprioritaskan adalah mereka yang telah menjalani dua pertiga masa pidana dan sedang berada dalam proses pembebasan bersyarat,” tegasnya.
Sebelum mulai bekerja di dapur MBG, para peserta terlebih dahulu akan mengikuti pelatihan teknis di lingkungan lapas. Pelatihan tersebut meliputi pengolahan makanan, penerapan kebersihan, hingga prosedur operasional dapur.
“Mereka akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu melalui dapur yang ada di dalam lapas, termasuk pembekalan khusus terkait pengolahan makanan dan standar operasional kerja,” katanya.
Yohanis berharap program tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga binaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, mereka juga akan mendapatkan sertifikat keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
“Setelah mengikuti pelatihan, mereka akan memperoleh sertifikat keterampilan yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat, baik untuk bekerja maupun membangun usaha secara mandiri,” ujarnya.
Meski melibatkan warga binaan dalam kegiatan operasional, ia memastikan seluruh aktivitas tetap berjalan di bawah pengawasan petugas lapas sesuai prosedur keamanan yang berlaku.
“Seluruh kegiatan tetap berada dalam pengawasan petugas dan dilaksanakan sesuai dengan standar pengamanan yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar