DPRD Kota Samarinda

DPRD Samarinda Ingatkan Tantangan Implementasi Coding dan AI di Sekolah

lihat foto
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA - Penerapan materi coding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem pembelajaran dinilai menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan di daerah. 

Persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan perangkat pendukung, tetapi juga kesiapan tenaga pengajar dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan pendidikan nasional yang berlangsung cepat.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menilai perubahan kurikulum seharusnya tidak dipandang sekadar pergantian materi pelajaran. Menurutnya, transformasi sistem pendidikan harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas guru agar penerapannya di sekolah dapat berjalan optimal.

“Perkembangan dunia pendidikan saat ini berlangsung sangat dinamis. Perubahan kurikulum, metode pembelajaran, hingga pemanfaatan teknologi terus terjadi. Karena itu, kesiapan tenaga pendidik menjadi faktor penting agar proses adaptasi dapat berjalan dengan baik,” ujarnya, pada Selasa (20/5/2026).

DPRD Kota Samarinda menyoroti tiga aspek utama yang dianggap menjadi penentu kualitas pendidikan daerah, yakni kurikulum, kualitas tenaga pendidik, serta sarana dan prasarana sekolah. Ketiga unsur tersebut dinilai saling berkaitan dan harus diperkuat secara bersamaan.

Novan menjelaskan, tantangan terbesar saat ini berada pada kemampuan guru dalam menghadapi sistem pembelajaran berbasis teknologi. Menurutnya, sejumlah sekolah mulai diarahkan untuk menerapkan pembelajaran coding dan AI, namun kemampuan tenaga pengajar dalam bidang tersebut masih belum merata.

“Penerapan program berbasis teknologi harus dibarengi dengan penguasaan materi oleh tenaga pengajar. Apabila guru masih dalam tahap penyesuaian, maka proses pembelajaran dikhawatirkan tidak dapat berjalan secara maksimal,” katanya.

Ia juga menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesenjangan antar sekolah. Sekolah yang memiliki akses teknologi dan sumber daya manusia yang memadai diperkirakan akan berkembang lebih cepat dibandingkan sekolah yang fasilitas dan kompetensi pengajarnya masih terbatas.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar