Salah satu inovasi yang diterapkan oleh anak perusahaan PHI adalah penerapan metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, yang dikelola anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), dan Lapangan Mutiara serta Lapangan Pamaguan, yang dikelola anak perusahaan PHI lainnya, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Metode itu untuk mengatasi tantangan jenis minyak yang memiliki kandungan lilin atau parafin tinggi dengan titik tuang (pour point) lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa. Penggunaan pelarut khusus mampu menjaga minyak agar tetap cair (tidak membeku) sehingga aliran produksi berlangsung optimal dan berkelanjutan. Tak hanya itu, terobosan teknologi lainnya di PHM juga berhasil mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu.
Di sisi lain, PHSS menerapkan inovasi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) pada sumur-sumur kerja ulang (workover) di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi gas lift dilakukan dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur untuk membantu minyak lebih mudah terangkat ke permukaan.
Inovasi ini berhasil meningkatkan produktivitas sumur dan mendukung pencapaian target produksi pada Triwulan I 2026. Akselerasi pencatatan produksi minyak turut disumbangkan oleh anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dari Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta sumur sisipan (infill) baru di lepas pantai Kalimantan Timur.
Upaya menjaga dan meningkatkan produksi tidak hanya melalui penerapan inovasi dan teknologi, namun juga pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur. Di PHM, misalnya, menjalankan Program Handil Rejuvenation di Lapangan Handil yang berhasil mendongkrak produksi lima persen dibandingkan sebelum pelaksanaan program.

Sementara itu, Capaian target produksi gas didukung oleh keberhasilan onstream platform kedua dan ketiga Proyek Sisi Nubi AOI yang dikelola oleh PHM pada akhir Februari dan Maret 2026. Kontribusi positif produksi gas juga ditopang oleh kelancaran kegiatan perawatan sumur (well service) di Lapangan Tunu (PHM), sumur workover Lapangan Santan (PHKT) dan Lapangan Nilam serta Mutiara (PHSS).
Anto menyampaikan terima kasih kepada seluruh pekerja dan pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat di wilayah operasi Perusahaan di Kalimantan.
”Dukungan seluruh pemangku kepentingan internal dan eksternal terhadap kelancaran operasi hulu migas Perusahaan merupakan aspek penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas yang penting bagi ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita pemerintah Indonesia,” pungkasnya (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar