BorneoFlash.com, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan radikalisme pemahaman keagamaan sering menjadikan anak-anak dan perempuan sebagai korban utama.
“Radikalisme kerap menempatkan anak dan perempuan sebagai korban pertama,” ujarnya saat peluncuran kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNICEF 2026–2030 di Jakarta.
Ia menyebut sejumlah pihak masih mengeksploitasi anak untuk aksi teror dan membatasi akses pendidikan dengan alasan tertentu. Menurutnya, tindakan tersebut merampas masa depan anak.
Nasaruddin meminta semua pihak memperkuat perlindungan anak. Ia juga mengingatkan bahwa tidak hanya radikalisme, liberalisme yang tidak tepat juga berpotensi berdampak negatif.
Pemerintah dan UNICEF melalui CPAP 2026–2030 akan fokus pada gizi, kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, serta sanitasi untuk mendukung target pembangunan nasional.
“Pendekatan bahasa agama penting agar program perlindungan anak berjalan efektif,” tegasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar