BorneoFlash.com, AMERIKA SERIKAT – Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” mengguncang berbagai kota di Amerika Serikat. Aksi yang berlangsung serentak pada akhir Maret 2026 ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern negeri Paman Sam.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai sejumlah kalangan semakin menunjukkan kecenderungan otoriter.
Berdasarkan laporan berbagai sumber internasional, lebih dari 3.300 aksi digelar di seluruh 50 negara bagian, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai jutaan orang—bahkan disebut menembus angka hingga 8 juta.
Dari kota besar seperti New York City, Los Angeles, hingga Washington, D.C., hingga kota-kota kecil dan wilayah konservatif, massa turun ke jalan membawa satu pesan utama: penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap mengancam demokrasi.
Di New York, puluhan ribu demonstran memadati jalanan. Aksi ini turut dihadiri aktor peraih Oscar, Robert De Niro, yang secara terbuka mengkritik Trump sebagai ancaman serius bagi kebebasan dan keamanan negara.
Sementara di Washington, ribuan orang memadati kawasan National Mall dengan membawa spanduk bertuliskan “Trump Must Go Now” dan “Fight Fascism”. Demonstrasi juga berlangsung dari Atlanta hingga San Diego, menunjukkan luasnya jangkauan gerakan ini.
Seorang veteran militer, Marc McCaughey, menyuarakan kekhawatiran yang dirasakan banyak peserta aksi.
“Tidak ada negara yang dapat berjalan tanpa persetujuan rakyat. Kami merasa konstitusi sedang terancam,” ujarnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar