Berita Samarinda Terkini

Harga Cabai Rawit di Pasar Segiri Samarinda Melonjak Jelang Idulfitri

lihat foto
Aktivitas pedagang cabai dan bawang di Pasar Segiri Samarinda menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Aktivitas pedagang cabai dan bawang di Pasar Segiri Samarinda menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, harga sejumlah bahan pokok di Pasar Segiri Samarinda mengalami peningkatan.

Komoditas cabai dan bawang merah menjadi yang paling terdampak, seiring tingginya kebutuhan masyarakat dan terbatasnya distribusi pasokan dari luar daerah.

Kenaikan harga ini mulai terasa dalam beberapa hari terakhir, dipicu lonjakan permintaan untuk kebutuhan memasak serta hambatan suplai dari daerah pemasok utama, khususnya dari wilayah Sulawesi.

Salah satu pedagang, Anis, mengungkapkan bahwa harga cabai rawit saat ini berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di rentang Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

Ia menuturkan bahwa peningkatan harga menjelang Idulfitri merupakan pola yang terjadi hampir setiap tahun akibat meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri menyebabkan kebutuhan cabai di masyarakat ikut meningkat,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).

Anis menjelaskan, sebelumnya harga cabai sempat mengalami penurunan, namun kembali naik karena distribusi dari luar daerah tersendat. Dalam beberapa waktu terakhir, pasokan dari Sulawesi sempat terhenti sehingga pedagang lebih banyak mengandalkan hasil produksi lokal.

“Ketersediaan pasokan dari Sulawesi sempat terhenti, sehingga kami lebih banyak mengandalkan cabai dari daerah lokal dengan jumlah yang terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan, gangguan pasokan tersebut dipengaruhi oleh faktor cuaca yang kurang mendukung di daerah asal, serta keterbatasan kapasitas angkut kapal yang lebih diprioritaskan untuk penumpang selama musim mudik.

“Kondisi cuaca di daerah pemasok serta keterbatasan ruang angkut kapal, yang lebih difokuskan untuk penumpang, turut memengaruhi distribusi barang,” katanya.

Situasi ini membuat pedagang harus bersaing dalam mendapatkan pasokan lokal, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga di tingkat pasar.


Selain cabai rawit, lonjakan harga juga terjadi pada cabai keriting yang kini dijual sekitar Rp40 ribu per kilogram, naik signifikan dari harga normal Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai besar relatif stabil di kisaran Rp40 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp35 ribu.

Kenaikan juga terjadi pada bawang merah yang saat ini dipasarkan dengan harga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram, dibandingkan harga normal sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Menurut Anis, penyebab kenaikan bawang merah tidak berbeda dengan cabai, yakni karena terbatasnya pasokan dari daerah penghasil.

“Kenaikan harga bawang merah dipicu oleh kondisi pasokan yang terbatas, terutama dari daerah pemasok utama,” ungkapnya.

Di sisi lain, harga bawang putih dan bawang bombai relatif stabil karena sebagian besar berasal dari impor sehingga ketersediaannya lebih terjaga.

“Komoditas seperti bawang putih dan bawang bombai berasal dari impor, sehingga stoknya dapat disimpan lebih lama sebelum didistribusikan ke pasar,” terangnya.

Saat ini, harga bawang putih berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan bawang bombai sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Meski terjadi kenaikan harga pada sejumlah komoditas, Anis menilai daya beli masyarakat justru tidak mengalami peningkatan signifikan. Ia menyebutkan bahwa aktivitas penjualan tahun ini cenderung lebih sepi dibandingkan periode Lebaran sebelumnya, dengan penurunan omzet diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.

“Daya beli masyarakat tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga aktivitas penjualan tidak seramai biasanya,” tuturnya.

Ia menambahkan, tren kenaikan harga seperti ini umumnya berlangsung dalam periode terbatas, yakni sekitar satu minggu sebelum hingga satu minggu setelah Lebaran. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya aktivitas panen karena banyak petani yang turut merayakan hari raya.

“Pada periode Lebaran, aktivitas panen cenderung menurun karena petani juga merayakan hari raya bersama keluarga,” pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar