Katro Chapter Balikpapan

Dari Kafe ke Ruang Hijrah, KATRO dan ISN Bangkitkan Semangat Pemuda Takengon

zoom-inlihat foto
Event KATRO Peduli bersama ISN di Takengon, pada Jum’at (27/2/2026). Foto: Dok Ist.
Event KATRO Peduli bersama ISN di Takengon, pada Jum’at (27/2/2026). Foto: Dok Ist

BorneoFlash.com, TAKENGON – Sore itu, Jumat (27/2/2026), Spank Cafe tak lagi sekadar tempat berkumpul anak muda. Ruang santai tersebut bertransformasi menjadi ruang silaturahmi, ruang berbagi gagasan, sekaligus ruang hijrah yang dikemas dengan pendekatan segar dan membumi.

Mengutip dari media Lintas Gayo, Kajian Trotoar (KATRO) Peduli bersama Islam Selamatkan Negeri (ISN) mengangkat tema “Menjadi Manusia yang Bernilai”. Tema sederhana, namun sarat makna, yang berhasil menghadirkan energi berbeda di tengah pemuda Takengon.

Target awal kegiatan hanya 40 peserta. Namun yang hadir mencapai sekitar 70 orang. Angka itu bukan sekadar capaian teknis, melainkan sinyal bahwa generasi muda di Takengon sedang mencari ruang bertumbuh—ruang yang ramah, terbuka, dan tidak menghakimi.

Ustaz Muhammad Ray Amigo membawakan materi dengan gaya yang cair namun tetap berbobot. Penyampaiannya runtut, rasional, dan menyentuh sisi emosional peserta. Ia mengajak hadirin memahami bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh popularitas atau pengakuan semata, melainkan oleh kontribusi nyata dan tingkat ketakwaannya.

Kajian terasa seperti obrolan hangat yang membuka kesadaran, bukan ceramah yang menggurui.

Suasana semakin hidup ketika sesi stand up comedy dari Harapan mengundang tawa peserta. Gelak canda pecah beberapa kali, namun pesan yang disampaikan tetap membekas.

Kehadiran Weshasi Panca Ranama sebagai bintang tamu turut memperkuat konsep dakwah anak muda—kreatif, menyenangkan, tetapi tetap substansial.

Momen reflektif hadir saat tokoh pemuda Gayo, Alwin Al Lahad, naik ke panggung memberikan motivasi. Ia mengisahkan sosok Tariq ibn Ziyad, pemuda yang memimpin penaklukan Andalusia dan mengukir sejarah besar peradaban Islam.


“Ini bukti bahwa pemuda yang dibina dengan benar akan menjadi kekuatan peradaban,” ujarnya, tegas namun penuh harap.

Kalimat tersebut seakan mengetuk kesadaran banyak peserta bahwa masa depan bukan sekadar menunggu waktu, melainkan menunggu proses pembinaan yang tepat.

Hadir pula perwakilan nasional KATRO, Dede Rosadi, yang menyampaikan bahwa KATRO kini telah berkembang menjadi 40 chapter di berbagai daerah di Indonesia. Takengon menjadi lokasi perdana kegiatan di wilayah ini—sebuah langkah awal yang berpotensi menjadi gerakan berkelanjutan.

Apresiasi pun mengalir kepada panitia di bawah komando Hudri dan tim. Dengan segala keterbatasan, mereka mampu menyelenggarakan acara yang tertata rapi, kreatif, dan memiliki daya tarik kuat.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa ketika pemuda diberi ruang, dihargai, dan disatukan dalam visi yang sama, hasilnya bisa melampaui ekspektasi. KATRO dan ISN tidak sekadar menggelar acara, tetapi mulai membangun ekosistem pembinaan—merangkul, bukan menghakimi, serta mengajak berhijrah dengan cara yang relevan dan membumi.

Rangkaian acara ditutup dengan buka puasa bersama yang hangat dan penuh makna. Obrolan ringan selepas kajian, tawa yang masih tersisa, serta wajah-wajah penuh semangat menjadi tanda bahwa sesuatu sedang tumbuh di Takengon.

Tak sedikit peserta pulang dengan pertanyaan yang sama: kapan KATRO berikutnya digelar?

Jika pertemuan perdana saja telah melampaui target dan meninggalkan kesan mendalam, bukan tidak mungkin kegiatan selanjutnya akan lebih besar, lebih hidup, dan semakin menggugah. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar