“Daripada investasinya besar, bisa saja gudangnya kami sewa. Jadi suplai dari Sulawesi Selatan tetap terjaga dan tidak memberatkan biaya pemeliharaan,” katanya.
Dalam pertemuan itu, isu ketahanan pasokan juga dikaitkan dengan pengalaman Balikpapan saat terjadi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem. Saat jalur laut terganggu, Balikpapan memaksimalkan pasokan dari wilayah sekitar Kalimantan melalui pelabuhan.
Selain pangan, sistem pengelolaan parkir juga menjadi topik diskusi. Pemkot Balikpapan tengah menyiapkan penataan parkir jalanan dan pasar tradisional dengan sistem pembayaran non-tunai sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Bagus menegaskan, berbagai penghargaan yang diraih Balikpapan bukan untuk berbangga diri, melainkan menjadi pemicu agar seluruh OPD tetap solid dan konsisten menjalankan visi-misi pemerintah kota. “Kalau OPD kompak, program berjalan sesuai arah, dan saling mengawasi, kota bisa berkembang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menyinggung capaian sektor air bersih, di mana tingkat kebocoran air berhasil ditekan dari 31 persen menjadi 24 persen. Menurutnya, angka tersebut tergolong signifikan dan jarang dicapai PDAM di Indonesia.
“PDAM yang bisa untung itu tidak banyak. Capaian ini patut diapresiasi,” tutup Bagus, seraya memberikan penghargaan kepada jajaran PTMB.
Studi tiru yang dipimpin Wali Kota Parepare, Tasming Hamid dan Wakil Wali Kota Parepare, Hermanto bersama istri serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan Kepala OPD menegaskan posisi Balikpapan sebagai salah satu kota rujukan dalam tata kelola ekonomi daerah, pengendalian inflasi, dan pelayanan publik yang berkelanjutan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar