Berita Samarinda Terkini

Imbauan Larangan Pengaruhi Minat Beli, Penjualan Kembang Api di Samarinda Menurun

lihat foto
Aktivitas pedagang kembang api di Samarinda. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Aktivitas pedagang kembang api di Samarinda. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Menjelang pergantian tahun, geliat penjualan kembang api di Kota Samarinda belum menunjukkan peningkatan signifikan. Kondisi ini dirasakan oleh sejumlah pedagang musiman yang menggantungkan pendapatan pada momen akhir tahun, salah satunya Syamsudin.

Pedagang yang telah lebih dari satu dekade berjualan kembang api ini mengungkapkan bahwa suasana penjualan tahun ini jauh lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat tidak terlihat seperti biasanya, meski malam tahun baru semakin dekat.

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, tingkat keramaian pembeli saat ini memang jauh berkurang,” tutur Syamsudin saat ditemui di lapak dagangannya, pada Selasa (30/12/2025).

Selain berjualan kembang api, Syamsudin sebenarnya memiliki usaha warung makan yang dikelola oleh istrinya.

Namun, ia memilih untuk tetap fokus menjaga lapak kembang api selama musim penjualan akhir tahun. Sayangnya, kondisi pasar yang tutup di sejumlah titik serta rendahnya minat pembeli membuat hasil penjualan belum sesuai harapan.

Ia menilai, penurunan omzet tidak terlepas dari adanya imbauan larangan menyalakan kembang api yang disampaikan aparat keamanan. Kebijakan tersebut, menurutnya, memengaruhi psikologis masyarakat sehingga enggan melakukan pembelian.

“Kemungkinan besar pengaruh imbauan tersebut cukup besar. Masyarakat menjadi ragu untuk membeli karena khawatir melanggar aturan,” ujarnya.

Syamsudin memaparkan, selisih pendapatan tahun ini cukup mencolok. Jika pada tahun-tahun sebelumnya omzet harian bisa menembus angka Rp4 juta hingga Rp5 juta, kini pendapatannya hanya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta, bahkan sering kali di bawah itu.

“Biasanya, mendekati malam pergantian tahun penjualan meningkat cukup tajam. Namun, hingga saat ini kondisinya masih relatif sepi,” katanya.


Meski demikian, Syamsudin tetap berharap lonjakan pembeli dapat terjadi pada malam tahun baru.

Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun berjualan, pembelian kembang api kerap memuncak tepat menjelang detik-detik pergantian tahun.

Ia juga menekankan bahwa penggunaan kembang api sejatinya aman apabila dilakukan dengan pengawasan orang dewasa, khususnya untuk produk berukuran kecil.

Menurutnya, risiko justru lebih besar pada kembang api berukuran besar yang membutuhkan penanganan khusus.

“Untuk kembang api berukuran kecil sebenarnya relatif aman jika digunakan dengan pengawasan. Yang berukuran besar memang harus dikendalikan secara ketat,” jelasnya.

Selain kembang api, Syamsudin juga menyediakan terompet dengan kisaran harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Ia menyebutkan bahwa minat pembeli justru lebih banyak tertuju pada terompet, terutama dari kalangan anak-anak.

Di sisi lain, menurunnya penjualan kembang api sejalan dengan kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang tidak mengeluarkan izin pelaksanaan pesta kembang api pada malam tahun baru.

Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai langkah preventif untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ke depan, Syamsudin berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kebijakan yang lebih proporsional, khususnya terkait peredaran kembang api berukuran kecil dengan pengawasan yang ketat.

“Apabila memungkinkan, kembang api kecil sebaiknya tetap diperbolehkan dengan pengawasan. Untuk yang berukuran besar, saya sendiri juga tidak memperjualbelikannya kepada anak-anak,” pungkasnya.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar