“Fasilitas ruang tunggu dan layanan lainnya sudah kami cek dan dalam kondisi siap. Kami siap melayani penumpang selama program posko Nataru,” tegasnya.
Untuk standar layanan, waktu pelayanan penumpang ditargetkan berkisar 10–15 menit, sementara pengambilan bagasi maksimal 30 menit sesuai ketentuan. Evaluasi terhadap layanan ini dilakukan berdasarkan pengalaman di seluruh bandara yang dikelola Angkasa Pura Indonesia.
“Masih ada beberapa hal yang dirasa kurang dari sisi pelayanan. Karena itu, dengan tema Melayani Sepenuh Hati, kami ingin terus meningkatkan kualitas layanan setiap tahun,” kata Farid.
Sementara itu, penambahan penerbangan masih terbatas. Hingga kini, baru Garuda Indonesia yang melaporkan penambahan dua penerbangan ekstra. Keterbatasan armada menjadi kendala utama, mengingat sejumlah pesawat Garuda dan Citilink masih dalam proses perbaikan.
“Tambahan penumpang juga hanya sekitar 1 persen karena keterbatasan aircraft. Kita masih membutuhkan sekitar 20–30 pesawat lagi untuk kembali ke kondisi sebelum Covid-19,” jelasnya.
Farid menegaskan, diskon tiket yang diberikan maskapai lebih berpengaruh pada harga, bukan pada lonjakan jumlah penumpang. Menurutnya, pemulihan penerbangan nasional masih membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah.
“Kami berharap ada insentif dari pemerintah, seperti insentif pajak, untuk mempercepat kembalinya penerbangan ke kondisi normal sebelum era Covid-19,” pungkasnya.
Dengan berbagai terobosan tersebut, Angkasa Pura optimistis pelayanan bandara selama Nataru dapat berjalan lebih lancar, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan penumpang. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar