Opini

Belajar dari Banjir di Sumatera dan Aceh, Saatnya Kaltim Lebih Serius Menjaga Lingkungan

Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas

BorneoFlash.com, OPINI - Banjir besar yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Aceh dalam beberapa minggu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa isu perubahan iklim dan masalah lingkungan sudah menjadi masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Setiap tahun, kita melihat pola yang sama yakni hujan yang ekstrem, daerah yang tidak siap, dan ribuan orang yang terpaksa mengungsi.

Namun, di balik bencana tersebut, ada pesan penting bagi daerah lain, termasuk Kalimantan Timur (Kaltim), bahwa tindakan mitigasi terhadap lingkungan tidak bisa ditunda lagi.

Kaltim mungkin tidak mengalami banjir sebesar di Sumatera dan Aceh, tetapi kita tahu bahwa beberapa kota disini seperti Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Bontang sering tergenang hanya karena hujan beberapa jam saja, ancaman yang serupa sebenarnya adalah hal yang nyata.

Kita berada dalam kawasan yang tengah menghadapi perubahan besar: ekspansi industri ekstraktif yang telah berlangsung lama, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang semakin pesat.

Di tengah perubahan tersebut, pertanyaan kuncinya adalah: apakah Kalimantan Timur benar-benar siap menghadapi risiko lingkungan yang semakin rumit?

Banjir di Sumatera dan Aceh tidak hanya terkait dengan hujan deras. Banyak ahli mengaitkan hal ini dengan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), berkurangnya area hutan, dan tata kelola ruang yang tidak efektif. Ini penting untuk dicatat karena kejadian serupa bisa terjadi di Kaltim.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, Berau, dan Bontang, juga mengalami banjir.

Ketika hujan hanya turun beberapa jam, beberapa kelurahan langsung tergenang. Ini menunjukkan bahwa kita berada dalam kondisi yang rentan.

Apa yang kita saksikan di Sumatera dan Aceh dapat menjadi cermin masa depan Kaltim jika pengelolaan lingkungan tidak diperkuat.

Kita tidak perlu menunggu terjadinya bencana besar untuk menyadari bahwa pencegahan jauh lebih efisien dan lebih manusiawi dibandingkan dengan penanganan setelah bencana terjadi.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar