Di proyek ini, pengeboran sumur-sumur menerapkan metode New Concept-Sacrificial Casing, yakni sistem partisi terkini yang terbukti meningkatkan keandalan operasi sekaligus mempercepat durasi pekerjaan. Hasilnya, sumur SS-406 berhasil mencatat laju pengeboran (Rate of Penetration) tercepat dan aman di PHM.
Pengeboran sumur SS-406 juga menjadi sumur pertama di Indonesia yang mengimplementasikan pressure test dan fluid analysis langsung menggunakan rangkaian bor.
Selain itu, pekerjaan penyelesaian sumur juga menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk keberhasilan pemasangan peralatan completion berteknologi single-trip-multi-zones gravel pack sand control dan multi-zone packer isolation dengan ukuran tubular 9-5/8” dan 7”.
Teknologi ini bertujuan untuk mengendalikan produksi pasir, mengisolasi beberapa zona reservoirs untuk selective production dan persiapan future application of thru tubing screen, sehingga dapat mengoptimalkan produksi.
Ditambahkan oleh Setyo bahwa keberhasilan onstream sumur pengembangan di Proyek Sisi Nubi AOI Platform WPS4 ini, menjadi awal dari rangkaian produksi berikutnya, dimana saat ini proyek Sisi Nubi AOI dilanjutkan pada tahap pengeboran development dengan menggunakan dua Jack-Up Rig yang sedang beroperasi di dua platform yang berbeda.
“Saya optimis keberhasilan Proyek Sisi Nubi AOI dapat menjadi referensi bagi proyek-proyek hulu migas lainnya. Saya percaya bahwa kolaborasi yang kuat, integritas, dan semangat yang tinggi dapat memberikan hasil yang terbaik,” pungkas Setyo.
Dalam kunjungan dua hari sebelumnya ke PHM, Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi menjelaskan bahwa PHE sebagai Subholding Upstream Pertamina, akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Sebagian besar produksi minyak nasional berasal dari lapangan-lapangan mature yang kami kelola di berbagai wilayah Indonesia, seperti di WK Mahakam. Tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan tingkat produksi di tengah kondisi reservoir yang menurun secara alami,” ungkapnya.
Awang juga mengungkapkan bahwa inovasi dan teknologi merupakan salah satu pilar dalam keberhasilan pengelolaan lapangan mature. Menurutnya, faktor manusia tetap menjadi kunci.
“Keberhasilan strategi dan pelaksanaan proyek investasi hulu migas sangat bergantung pada kompetensi personel di lapangan. Kami terus mengembangkan kapabilitas pekerja, baik senior maupun generasi baru, agar adaptif, inovatif, dan mampu merespon tantangan industri,” jelasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar