BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Kapolda Kalimantan Timur (Kaltim), Irjen Pol Endar Priantoro, memimpin langsung Simulasi Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi meningkat pada akhir 2024 hingga awal 2025.
Kegiatan ini digelar untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam memitigasi potensi bencana di wilayah Kaltim.
Kapolda menegaskan, langkah kesiapsiagaan ini penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia. “Simulasi ini bukan sekadar latihan. Ini adalah alarm kesiapsiagaan untuk memastikan masyarakat Kaltim terlindungi dari potensi bencana hidrometeorologi,” ujar Irjen Pol Endar, saat memimpin Simulasi Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di wilayah Kaltim, di Halaman Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC)/Dome, pada Sabtu (6/12/2025).
Polda Kaltim mencatat telah menangani 202 kejadian bencana sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Kasus tersebut didominasi kebakaran, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Polda Kaltim menyiagakan 1.682 personel Polda, Polresta, dan Polres jajaran. Didukung 2.031 personel lintas instansi, termasuk TNI, BPBD, Basarnas, BMKG, Dishub, Satpol PP, dan Damkar.
Tak hanya itu, Polda Kaltim juga menggelar rakor lintas sektoral; melakukan pelatihan peningkatan keterampilan; melaksanakan patroli gabungan; menyiapkan fasilitas pendukung seperti kendaraan khusus, dapur umum, posko siaga, dan sarana evakuasi dan memberikan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat.
“Penanganan bencana adalah tugas multidimensi. Butuh visi yang padu, kerja sama lintas sektor, dan komitmen untuk melindungi masyarakat,” kata Kapolda.
BMKG memprediksi curah hujan tinggi pada Desember 2024 hingga Januari 2025, dengan intensitas mencapai 50–150 mm per hari di beberapa wilayah, seperti Kutai Barat, Mahakam Ulu, Berau, Paser, dan sebagian Kutai Kartanegara.
Selain itu, gelombang laut diperkirakan mencapai dua meter, berpotensi memicu banjir rob di wilayah pesisir Balikpapan, Samarinda, Bontang, dan Berau.
Simulasi tanggap darurat ini disebut menjadi momen krusial untuk melatih kecepatan respons dan koordinasi antarinstansi. "Kegiatan ini harus dilaksanakan dengan serius. Ini bekal penting bagi personel agar selalu siap bergerak kapan saja,” tegas Kapolda.
Ia juga menyampaikan tujuh instruksi utama, mulai dari deteksi dini, penyampaian informasi ke masyarakat, kesiapan sarana prasarana, respons cepat, hingga peningkatan koordinasi dengan seluruh stakeholder.
Menutup arahannya, Kapolda menegaskan bahwa negara selalu hadir untuk melindungi rakyat dalam situasi apa pun. “Ini bukan hanya tugas kedinasan, tetapi panggilan moral. Laksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab agar menjadi ladang ibadah bagi kita semua,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa mengacu survei World Risk Index 2025, Indonesia berada pada peringkat ketiga negara dengan potensi bencana alam tertinggi. Kompleksitas geografis dan curah hujan ekstrem menjadikan banjir, tanah longsor, dan banjir bandang sebagai ancaman yang hampir terjadi setiap musim hujan.
Kapolda juga menyinggung tragedi bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November lalu yang mengakibatkan 862 korban meninggal, 560 orang hilang, dan 2.700 luka-luka berdasarkan data BNPB per 5 Desember.
Dalam momentum tersebut, ia pun mengajak seluruh peserta apel untuk mendoakan para korban dan petugas yang masih bertugas di lapangan.
Usai simulasi, Kapolda Kaltim beserta para undangan meninjau peralatan dan perlengkapan yang telah disiapkan, dalam menghadapi Bencana Hidrometeorologi di wilayah Kaltim. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar