Opini

Pendidikan sebagai Pilar Utama Mewujudkan Kesetaraan Sosial

lihat foto
Ilustrasi by Freepik.
Ilustrasi by Freepik.

BorneoFlash.com, OPINI - Pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk masyarakat yang adil dan setara. Sebagai pilar utama dalam upaya mewujudkan kesetaraan sosial, pendidikan bukan hanya sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai medium pemberdayaan individu untuk mengatasi ketimpangan sosial yang selama ini terjadi.

Melalui pendidikan yang berkualitas dan akses yang merata, setiap warga negara memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan diri dan berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesetaraan sosial dalam konteks pendidikan berarti memberi kesempatan yang seimbang kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi, suku, agama, maupun kondisi fisik.

Sayangnya, masih banyak kendala yang menghambat terwujudnya pendidikan inklusif dan merata di Indonesia, seperti keterbatasan sarana prasarana, disparitas kualitas guru, serta hambatan geografis di daerah terpencil.

Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus berinovasi dan berkomitmen dalam menghadirkan kebijakan pendidikan yang tidak hanya formal tetapi juga inklusif sehingga mampu menjangkau seluruh anak bangsa.Dengan pendidikan yang setara, bukan hanya keterampilan akademik yang akan diperoleh tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran sosial.

Pendidikan mengajarkan nilai-nilai toleransi, kerja sama, dan penghargaan terhadap perbedaan, yang semuanya menjadi fondasi kuat dalam mengikis kesenjangan sosial. Ketika masyarakat memperoleh pendidikan yang setara, kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan ketidakadilan sosial menjadi lebih besar, sehingga tercipta sebuah masyarakat yang harmonis dan berkeadilan sosial.

Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya bangsa dan berfungsi membentuk manusia seutuhnya: cerdas, berbudi pekerti luhur, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat. Prinsip "Tut Wuri Handayani" yang dikenalkannya menekankan pentingnya memberikan dorongan dari belakang agar setiap individu dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan kemampuannya.

Hal ini paralel dengan gagasan dalam opini bahwa pendidikan berperan sebagai medium pemberdayaan yang meratakan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.Selain itu,

Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai alat untuk menciptakan kesetaraan sosial dan menghapus ketidakadilan, sesuai dengan cita-cita nasionalisme yang inklusif. Pendidikan menurutnya harus mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, tidak hanya untuk segelintir orang elite, sehingga mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.

Opini tersebut mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan sosial.Dengan demikian, teori Ki Hajar Dewantara memberikan landasan filosofis kuat terhadap opini tersebut, khususnya dalam hal pendidikan sebagai alat pembebasan sosial dan pemberdayaan rakyat secara luas berdasarkan prinsip inklusivitas dan pemerataan kesempatan belajar.


Teori John Dewey juga sangat relevan dengan opini "Pendidikan sebagai Pilar Utama Mewujudkan Kesetaraan Sosial." Dewey, sebagai tokoh pendidikan progresif, menekankan bahwa pendidikan harus bersifat demokratis dan berorientasi pada pengalaman hidup nyata.

Menurutnya, pendidikan adalah sarana pembelajaran yang mengembangkan potensi individu sekaligus mempersiapkan mereka untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan demokrasi.Dewey percaya bahwa sekolah harus menjadi komunitas kecil yang mencerminkan masyarakat luas, di mana siswa belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, dan mengatasi konflik secara konstruktif.

Pendekatan ini sejalan dengan ide bahwa pendidikan adalah medium pembentukan karakter dan kesadaran sosial, yang mengajarkan nilai kesetaraan, toleransi, dan penghargaan terhadap keragaman sebagaimana disebutkan dalam opini tersebut.Selain itu, Dewey menekankan pentingnya akses pendidikan untuk semua orang sebagai bagian dari keadilan sosial.

Ia memperjuangkan pendidikan yang tidak eksklusif atau diskriminatif, tetapi inklusif dan memberdayakan semua individu tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi. Hal ini mendukung gagasan bahwa pendidikan yang merata dapat menjadi jalan keluar dari ketimpangan sosial dan ekonomi serta membangun masyarakat yang lebih adil dan setara.

Dengan demikian, teori John Dewey memperkuat argumen bahwa pendidikan harus menjadi pilar utama dalam mewujudkan kesetaraan sosial melalui pendekatan demokratis, inklusif, dan berorientasi pada pengalaman hidup nyata yang memberdayakan semua anggota masyarakat.Opini tentang "Pendidikan sebagai Pilar Utama Mewujudkan Kesetaraan Sosial" sangat sejalan dengan teori pendidikan dari Ki Hajar Dewantara dan John Dewey.

Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya dan bertujuan membentuk manusia seutuhnya, dengan prinsip "Tut Wuri Handayani" yang memberi dorongan agar setiap individu berkembang sesuai potensinya. Ia memandang pendidikan sebagai alat untuk mewujudkan kesetaraan sosial, menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi, sehingga mendukung terciptanya masyarakat adil dan makmur.

Hal ini paralel dengan opini yang menekankan pendidikan sebagai medium pemberdayaan dan pemerataan kesempatan belajar .Sementara itu, John Dewey memandang pendidikan sebagai proses demokratis yang berorientasi pada pengalaman hidup nyata, yang mempersiapkan individu berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Dewey menekankan bahwa sekolah harus mencerminkan komunitas sosial yang inklusif, mengajarkan nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman.

Pendidikan menurut Dewey harus dapat diakses oleh semua tanpa diskriminasi agar dapat mengatasi ketimpangan sosial. Dengan demikian, teori Dewey memperkuat gagasan bahwa pendidikan adalah pilar utama dalam membangun kesetaraan sosial melalui pendekatan yang inklusif dan demokratis.

Kedua teori ini memberikan landasan filosofis dan praktis yang kuat bagi opini tersebut, yaitu pendidikan sebagai kunci pemberdayaan sosial dan pembentukan masyarakat yang adil dan setara. (*)

Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd Profesi: Guru No WhatsApp: 085792185490 Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com
Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar